Jumat, 13 April 2018

Cerpen tentang Sahabat Khalid bin Walid r.a.


SAAT-SAAT TERAKHIR
SANG PEDANG ALLAH

     Di Homs. Ya, di Homs, di Suriah. Tepatnya di sebuah rumah yang cukup sederhana. Lelaki itu tergeletak tak berdaya di atas tempat tidurnya. Tubuhnya nampak lemah tak bertenaga. Tapi kedua matanya masih menyimpan api semangat yang tetap membara. Sorot matanya sangat tajam. Ia terus menatap ke atas, ke arah langit-langit rumahnya. Lelaki dengan postur tubuh tinggi, kekar, dan berotot. Kulitnya putih kemerah-merahan. Wajahnya berwibawa dengan janggut yang lebat. Dia bukan sembarang lelaki. Dialah Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat utama Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.
     “Ah, haruskah aku mati hanya dalam keadaan seperti ini?,” keluhnya dengan kesal. “Sejak aku masih remaja, duniaku adalah perang, perang, dan perang. Setiap tarikan napas, denyut jantung, dan aliran darahku adalah untuk perang,” pikirannya mulai menerawang. Tiba-tiba saja ingatannya tertuju kepada masa silam di saat ia belum masuk Islam. Terbayang betapa banyak dosa yang telah dilakukannya. Ia adalah salah seorang pemuka Quraisy yang menindas dan menganiaya kaum muslimin dengan kejamnya.
     Teringat ia bagaimana sepak terjangnya dalam Perang Uhud. Pasukan Quraisy, yang mana Khalid menjadi komandan kavaleri, berjumlah tiga ribu prajurit. Sedangkan kaum muslimin, langsung di bawah pimpinan Nabi S. a. w., hanya berkekuatan tujuh ratus orang. Sungguh, kemenangan sudah berada di pihak tentara Islam. Pasukan musyrikin menjadi kacau balau dan lari tunggang langgang. Banyaknya prajurit dari pihak Quraisy terbukti tidak sanggup menolong untuk meraih kemenangan.
     Dalam keadaan kritis itu, Khalid bin Walid memandang ke arah lereng-lereng bukit. Ia menyaksikan puluhan anggota regu pemanah meninggalkan tempatnya. Mereka turun untuk ikut mengambil barang rampasan perang yang berjatuhan dari pasukan musyrikin. “Nah, ini peluang bagus. Bagian belakang pasukan muslimin sudah tidak dijaga lagi kecuali beberapa orang saja. Ini saat yang tepat untuk menghancurkan mereka,” gumamnya penuh harapan. Maka menyerbulah Khalid bersama pasukan berkudanya tanpa dapat dibendung lagi.
     Serangan gencar pasukan Khalid dari arah belakang itu membalikkan keadaan. Kaum muslimin yang sedang sibuk memunguti harta rampasan perang menjadi kocar-kacir. Gugur dalam perang ini, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, “Singa Allah dan Singa Rasul-Nya”. Beliau adalah paman tercinta Rasulullah S. a. w. Bahkan, Nabi sendiri menderita luka yang cukup serius. Sempat beredar isu bahwa beliau telah terbunuh.
     Penyesalan tampak di wajah Khalid yang kini tergeletak di atas pembaringannya. Namun kemudian ia tersenyum saat teringat akan salah satu hari kebahagiaannya. Ia pernah bercerita, “Allah membukakan hatiku untuk Islam. Aku sudah memutuskan untuk masuk Islam dan menemui Nabi S. a. w. di Madinah. Aku perlu seseorang yang mau menemaniku. Bertemulah aku dengan ‘Utsman bin Thalhah dan aku sampaikan maksudku kepadanya. Ternyata ia setuju. Ketika sampai di sebuah dataran tinggi, kami bertemu dengan ‘Amr bin ‘Ash.
     “Hendak ke manakah, tuan-tuan ini?”
     “Kami hendak ke Madinah menemui Muhammad untuk masuk Islam”
     ‘Amr bin ‘Ash rupanya juga punya niat yang sama. Maka, berangkatlah mereka bertiga dan sampai di Madinah pada awal bulan Safar tahun kedelapan Hijriyah.
     Di depan Rasulullah S. a. w., Khalid menyampaikan salam kenabian. Nabi membalas salam itu dengan wajah cerah. Khalid segera bersyahadat.
     “Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kepadamu. Sungguh aku telah mengetahui bahwa engkau seorang yang cerdas. Dan aku berharap, kecerdasan itu hanya akan menuntunmu kepada jalan kebaikan,” sabda Nabi sambil tersenyum.
     “Mohon kiranya engkau mohonkan ampun untukku atas semua tindakan masa laluku yang menghalangi jalan Allah,” Khalid meminta dengan wajah mengiba.
     “Sesungguhnya keislaman itu telah menghapuskan segala perbuatan yang lalu,” jawab Nabi singkat. Namun Khalid tetap mendesak beliau agar berkenan mendoakannya.
     “Ya Allah, aku mohon kiranya Engkau ampuni dosa Khalid ibnul Walid karena tindakannya menghalangi jalan-Mu di masa lalu,” Nabi berdoa dengan penuh kesungguhan.
     Kenangan yang indah itu disusul dengan kenangan indah berikutnya. Tibalah kaum muslimin harus bertempur melawan pasukan Romawi di Muktah. Pasukan muslimin kurang dari tiga ribu orang berhadapan dengan seratus lima puluh ribu orang lawannya. Khalid baru saja masuk Islam sehingga ia tidak wajib ikut dalam peperangan ini. Tetapi sebagai kesatria yang “berdarah perang”, tentu ia tak mungkin tinggal diam.
     Satu per satu dari ketiga panglima perang yang ditunjuk Nabi, gugur di medan laga. Tsabit bin Arqam segera mengambil panji perang dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
     “Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!” teriak Tsabit kepada Khalid bin Walid.
     Khalid hanyalah seorang prajurit biasa. Lagi pula, ia baru saja masuk Islam. Dengan rendah hati, ia menjawab, “Tidak... jangan saya. Andalah yang lebih berhak memegangnya. Anda lebih berusia dan telah menyertai Perang Badar.”
     “Ambillah, sebab Anda lebih tahu siasat perang daripada saya. Dan demi Allah, saya tak akan mengambilnya kecuali untuk saya serahkan kepada Anda!” tegas Tsabit. Kemudian ia berseru kepada seluruh anggota pasukan, “Bersediakah kalian di bawah pimpinan Khalid?”. Mereka serempak menjawab, “Setuju!”.
     Perbandingan jumlah personil, peralatan, dan pengalaman antara kedua pasukan, jelas jauh dari seimbang. Tak ada taktik perang yang bagaimana pun yang mampu merubah kekalahan menjadi kemenangan. Satu-satunya yang masih mungkin dilakukan hanyalah menghindarkan pasukan Islam ini dari kemusnahan total. Perlu diingat, pengunduran diri semacam ini pun nampaknya termasuk hal yang mustahil. Tapi adakah sesuatu yang mustahil bagi hati yang berani? Maka, siapa pula orang yang lebih pemberani dibanding Khalid? Siapakah yang lebih hebat kepahlawanannya? Dan siapa yang lebih tajam pandangannya daripada dia?
     Di sinilah, Khalid bin Walid mempertunjukkan kepahlawanan dan kejeniusannya sebagai panglima. Dan dikarenakan Perang Muktah inilah, Rasulullah S. a. w. menggelarinya Sayfullah al-Maslul, Pedang Allah yang Senantiasa Terhunus. Nabi pernah bersabda, “Khalid bin Walid itu sebilah pedang dari sekian pedang Allah yang dihunuskan kepada orang-orang kafir dan munafik.”
     Ingatan Khalid terus melayang ke beberapa puluh tahun yang lalu. Yaitu, saat Nabi beserta sepuluh ribu pasukan muslimin membebaskan kota Mekah. Untuk bagian sayap kanan pasukan, Rasulullah S. a. w. mengangkat Khalid sebagai pimpinannya. Gemuruh suara tahlil, dan takbir, bercampur suara ringkikan kuda-kuda. Alangkah bahagia dan terharunya hati Khalid. Kali ini, ia memasuki Mekah sebagai salah seorang pemimpin pasukan umat Islam. Ia bukan tergolong mereka yang masuk Islam karena terpaksa, sekadar terbawa-bawa oleh kemenangan ini.
     Khalid juga tidak lupa, setelah itu Rasulullah S. a. w. mengutusnya untuk berdakwah, bukan berperang. Ketika ia menjumpai Bani Jadzimah, mereka berkata, “Kami telah keluar dari agama! Kami telah keluar dari agama!” Mendengar kata-kata ini, Khalid memerintahkan pasukannya membunuh sebagian mereka. Sisanya ditawan. Tetapi kemudian ia juga membunuh tawanan tersebut. Khalid merasa telah terjadi kesalahpahaman. Peristiwa ini lalu dilaporkan kepada Nabi.
     “Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang telah dilakukan Khalid ibnul Walid,” begitu doa Nabi dengan rasa sedih bercampur marah. Inilah insiden yang mungkin menyebabkan hubungan persahabatannya dengan ‘Umar bin Khaththab mulai renggang. ‘Umar berpendapat bahwa Khalid terlalu cepat menggunakan pedangnya. Ia khawatir akan banyak korban berjatuhan di tangan saudara sepupunya itu. Padahal, bisa jadi ini karena Khalid kurang memahami ucapan “Kami telah keluar dari agama”. Ia menangkap kalimat itu sebagai, “Kami telah murtad dari Islam”.
     Meskipun begitu, Rasulullah S. a. w. tidak pernah memecat Khalid bin Walid sebagai panglima. Demikian pula, setelah Nabi wafat, dan Abu Bakar ash-Shiddiq menggantikan beliau sebagai khalifah. Sang Pedang Allah tetap menduduki jabatannya sebagai panglima besar pasukan Islam. Kemenangan demi kemenangan, keajaiban demi keajaiban, terjadi berkat prestasi luar biasa dari Abu Sulaiman. Nama beserta gelarnya menyebar dengan cepatnya ke seantero bumi.
     Suatu saat, Georgius, seorang panglima Romawi, pernah mengundangnya. Ketika peperangan tengah berhenti, Khalid pun memenuhi undangan itu. Setelah saling berhadapan muka, panglima Romawi itu segera membuka percakapan, “Tuan Khalid, jujurlah Anda kepada saya. Jangan berbohong, sebab orang merdeka tak akan berbohong!
     “Apakah Allah,” sambungnya tak sabar “telah menurunkan sebilah pedang kepada Nabi Anda dari langit. Lalu, pedang itu diberikannya kepada Anda sehingga setiap Anda hunuskan kepada siapa pun, pedang itu pasti membinasakannya?!”
     “Astaghfirullah!”, gumam Khalid dalam hati. Setelah menghela napas sejenak, ia menjawab tanpa kesombongan sedikit pun , “Oh, tidak!”
     “Mengapa Anda dinamai Pedang Allah?”, panglima Romawi itu terus mendesak karena merasa penasaran.
     “Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kami. Dahulunya, saya termasuk orang yang mendustakan beliau. Akhirnya Allah membukakan hati saya sehingga menerima Islam, agama yang beliau bawa. Saya berjanji setia kepada beliau. Lalu, beliau bersabda kepada saya, ‘Engkau adalah Pedang Allah di antara sekian pedang-pedang-Nya.’ Demikianlah, maka saya diberi nama Pedang Allah.”
     Rupanya si panglima itu makin penasaran terhadap Islam. Ia banyak bertanya jawab dengan Khalid. Sebelum menutup pembicaraan, Georgius meminta dengan sungguh-sungguh, “Ajarkanlah Islam itu kepada saya, wahai Tuan Khalid!”. Maka, masuk Islamlah dia. Georgius sempat mengerjakan salat dua rakaat, satu-satunya salat yang mampu ditegakkannya. Panglima ini berbalik haluan. Ia berperang di pihak kaum muslimin hingga gugur sebagai syuhada.
     Pada kesempatan lain, Khalid memasuki Nejd, wilayah perkampungan Bani Tamim. Banyak dari anggota suku itu yang bergegas menyatakan tunduk kepada kekuasaan kekhalifahan. Tetapi, suku Bani Yarbu, di bawah pimpinan Malik bin Nuwayrah, menolak untuk menyerah. Ia malah melarikan diri melintasi padang pasir. Namun, ia tertangkap lalu dihadapkan kepada Khalid. Dari keterangannya, Khalid menyimpulkan bahwa Malik telah murtad dan memberontak. Khalid memerintahkan seorang anggota pasukannya untuk membunuh Malik. Setelah kematiannya, pada malam harinya, Khalid menikahi mantan istri Malik, Layla binti Minhal. Dia adalah seorang wanita yang sangat cantik.
     ‘Umar bin Khaththab sangat gusar mengetahui kejadian itu. Ia menghadap Abu Bakar dan mengusulkan pemecatannya, “Sesungguhnya pada pedang Khalid itu ada rohaq-nya.” Rohaq adalah sesuatu yang identik dengan “kelancangan, ketergesaan”, dan “ketajaman”. ‘Umar tidak menyatakan bahwa Khalid itu lancang dan tergesa-gesa. Ia hanya mengatakan bahwa pedang Khalid itulah yang “terlalu cepat”, bukan pribadi pemilik pedangnya. Ini bukan hanya mengungkapkan adab kesopanan, tetapi bahwa ‘Umar tetap berprasangka baik.
     “Hai ‘Umar, dia telah berusaha menimbang tapi keputusannya salah. Jangan berkata yang bukan-bukan tentang Khalid,” sergah Khalifah Abu Bakar yang mulai jengkel.
     “Aku sarankan sebaiknya Khalid diberhentikan saja sebagai panglima,” ‘Umar terus berusaha mendesakkan pendapatnya.
     “Demi Allah, aku tak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah kepada orang-orang kafir,” jawab sang Khalifah lugas dan tegas. ‘Umar pun tak membantah lagi meskipun ia sangat kecewa.
     Pikiran Khalid terus mengembara. Lelaki yang terbaring lemah ini nampak resah. Sejak kecil ia memang sering tak akur dengan sepupunya yang kidal itu, ‘Umar bin Khaththab. Keduanya memiliki postur tubuh dan wajah yang nyaris sama. Umur mereka pun sebaya. ‘Umar sedikit lebih tinggi. Mereka juga sama-sama menyukai olah raga gulat. Suatu saat, keduanya terlibat adu gulat yang seru. Khalid menang dan bahkan mematahkan tulang betis ‘Umar. Semuanya itu hanyalah olah raga dan kesenangan. Persahabatan mereka berjalan terus hingga dewasa.
     Maka berkecamuklah Perang Yarmuk. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Sang Pedang Allah beserta pasukannya sudah hampir meraih kemenangan. Tiba-tiba datanglah surat dari Madinah kepada Abu Ubaidah ibnul Jarrah, salah seorang komandan pasukan Islam. Isinya adalah berita duka wafatnya Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq dan dibaiatnya ‘Umar bin Khaththab sebagai penggantinya. Selain itu, juga berisi perintah pemberhentian Khalid bin Walid sebagai panglima besar. Sebagai penggantinya, Khalifah ‘Umar al-Faruq mengangkat Abu Ubaidah sebagai panglima yang baru.
     Abu Ubaidah sengaja merahasiakan surat itu. Alasannya, kemenangan pasukan kaum muslimin atas bala tentara Romawi harus dipastikan lebih dahulu. Diam-diam ia sebenarnya mengagumi Khalid, tetapi ia juga menghormati Khalifah ‘Umar al-Faruq. Ia merasa kebingungan menentukan sikap. Setelah perang usai, barulah ia sampaikan surat itu kepada Khalid. Setelah membaca surat itu, Khalid berkata, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Ubaidah.”
     “Mengapa engkau tidak segera mengabariku tentang surat ini?”
     “Aku tidak mau mengganggu konsentrasimu dalam berperang. Kita sama-sama mengetahui bahwa bukan kekuasaan dunia yang kita inginkan. Sungguh, bukan karena dunia kita beramal. Kita semua ini bersaudara fi sabilillah,” Abu Ubaidah menjelaskan alasannya.
     “Sungguh luhur budimu, wahai Abu Ubaidah. Rasulullah sendiri telah mempunyai firasat tentang semua kebaikanmu. Engkau memang sangat pantas mendapat gelar “Kepercayaan Umat”. Semoga Allah memberkatimu, wahai orang yang tepercaya.”
     Khalid merasakan adanya ketidakadilan dengan keputusan itu. Namun, ia tetap menunjukkan kebesaran jiwanya. Kebesaran jiwa yang memang layak dimiliki oleh seorang besar seperti dirinya. Meskipun sudah dicopot dari jabatannya sebagai panglima, Khalid masih terus berjihad dalam banyak peperangan. Dia tetap berdisiplin tinggi dan tunduk patuh kepada Amirul Mukminin ‘Umar al-Faruq. Baginya sama saja, jadi panglima atau prajurit biasa. Semangat jihadnya terus berkobar-kobar.
     Abu Ubaidah tetap mempercayakan pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid. Ia juga menjadikan sang Pedang Allah sebagai penasihat militer. Ini juga sesuai dengan arahan Khalifah ‘Umar al-Faruq. Ketika ada yang bertanya alasan pemecatan Khalid, ‘Umar menjelaskan, “Aku tidak memecat Khalid bin Walid karena kebencian atau khianat. Tetapi, kulihat semua orang sangat terkagum-kagum kepadanya. Sungguh, aku khawatir orang-orang hanya percaya akan kehebatannya. Maka, aku ingin mereka sadar bahwa Allahlah yang mengaruniakan semua kemenangan  ini. Aku khawatir mereka akan tertimpa fitnah.”
     Khalid bin Walid sampai pada puncak karirnya. Ia termasyhur dan dicintai oleh anak buahnya. Bagi kaum muslimin dia adalah seorang pahlawan nasional, publik mengenalnya sebagai al-Amir as-Saifullah, sang Penghulu Pedang Allah. Ketenarannya sebagai panglima perang yang tak terkalahkan itulah yang membuat Khalifah ‘Umar risau. Ia berkata kepada Khalid, “Apa yang telah engkau lakukan, tak ada seorang pun yang mampu melakukannya. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah pada hakikatnya Allahlah yang melakukan semua itu!”
     Sekarang, lihatlah pahlawan Islam ini! Pahlawan yang telah meruntuhkan dua adidaya dunia, Romawi dan Persia. Tubuhmya terkulai lunglai. Dengan kecewa ia berkata terbata-bata, “Aku telah ikut serta lebih dari seratus pertempuran di mana-mana. Tak ada sejengkal pun dari tubuhku yang tak terkena tusukan tombak, tebasan pedang, atau tancapan anak panah.” Sungguh menakjubkan, luka sebanyak itu tidak mampu membunuh Khalid!    
     Memahami keluhan sahabatnya yang nampak begitu menyesal, Qais bin Sa’ad berusaha menghibur. Air mata Khalid tak terbendung lagi, “Mengapa aku tidak mati syahid di medan laga saja? Apa yang menghalangiku?”
    Qais mendekat lalu berkata lembut, “Hal ini memang sudah menjadi takdirmu. Rasulullah menggelarimu Sayfullah, Pedang Allah. Beliau tentu mengetahui bahwa pedang itu tak mungkin patah dalam peperangan. Sebab, jika pemiliknya sampai terbunuh di tangan musuh, itu berarti pedang-Nya patah. Itu tak akan Allah biarkan terjadi.”
     “Dan saat ini, tak ada satu amal pun yang lebih kudambakan kecuali ucapan la ilaha illallah,” begitu kata Khalid. Jadi, tidakkah Khalid mati dalam keadaan syahid? Nabi S. a. w. pernah bersabda, “Barangsiapa yang sungguh-sungguh memohon agar dikaruniai mati syahid, maka ia akan mendapatkan pahala seperti seorang syuhada, sekalipun ia mati di atas tempat tidur.”
     Tentang Abu Bakar dan ‘Umar, Khalid sempat mengucapkan, "Segala puji bagi Allah yang telah menetapkan kematian atas Abu Bakar. Dia lebih menyukaiku dibanding ‘Umar. Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kekuasaan kepada ‘Umar yang kurang menyukaiku dibanding Abu Bakar, dan memaksaku untuk menyukainya." Meski hubungannya dengan ‘Umar sempat menegang, namun kepemimpinan ‘Umar yang luar biasa, tak urung membuat Khalid mengaguminya.
     Tatkala mengetahui kematian Khalid, ‘Umar menangis sejadi-jadinya. Belakangan diketahui bahwa ia menangis bukan hanya karena merasa kehilangan semata. Tetapi, ternyata sudah agak lama ia sangat ingin mengangkat Khalid kembali menjadi panglima besar. Dan keinginannya itu tak mungkin diwujudkan lagi. Ia pun mengakui bahwa Abu Bakar lebih mengenal orang-orangnya daripada dirinya.
     “Inilah aku, yang akan mati hanya di tempat tidur layaknya seekor unta tua. Sungguh, tak dapat terpejam mata para pengecut!” Begitulah kata-kata terakhir sang Pedang Allah. Di kamar itu, berkumpullah keluarga dan para sahabat mengelilinginya. Air mata membasahi pipi-pipi mereka. Tak ada seorang pun yang tidak mendoakan kebaikan untuknya. Para wanita menangisinya. Betapa tidak? Mereka benar-benar kehilangan seorang  lelaki jantan sejati yang sangat sulit dicari bandingannya.
     ‘Umar al-Faruq dikenal sangat keras dan tegas. Ketika diminta menenangkan para wanita itu, ia hanya berucap, “Tidak apa-apa mereka menangisinya, asalkan tidak berlebihan.” Di tengah suasana berkabung, terdengar seorang wanita mendendangkan sebuah syair.
            Jutaan manusia tak mampu mengungguli keutamaanmu.
            Mereka gagah perkasa namun tunduk di ujung pedangmu.
            Engkau pemberani melebihi singa betina.
            Yang tengah mengamuk melindungi anak-anaknya.
            Engkau lebih dahsyat daripada air bah.
            Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah.
     Mendengar itu, Khalifah ‘Umar al-Faruq pun makin bertambah duka dan terharu. Air matanya semakin deras mengalir berderai. “Benar ucapannya itu. Demi Allah, memang sungguh-sungguh demikian,” ia menegaskan kesaksiannya. Ia bertanya kepada seseorang, “Siapakah wanita itu?”
     “Dia adalah Lubabah ash-Shughra, biasa dipanggil Ummu al-Fadhl. Dia adalah ibu dari Khalid bin Walid,” orang itu menerangkan. Maka, Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Tak akan ada seorang wanita pun yang sanggup melahirkan lagi laki-laki sekelas Khalid bin Walid.”
     Apakah Khalid meninggalkan sekadar harta benda? Lalu, kepada siapa ia mewasiatkannya? Ya, ia hanya meninggalkan kuda perang dan pedangnya. Dan ini diwasiatkannya kepada ‘Umar al-Faruq sendiri. Sebuah bukti keikhlasan hubungan persaudaraan antara Khalid dan ‘Umar.
     Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Semoga husnul khatimah. Allah meridaimu. Dalam melepas kepergian sang syahid agung ini, marilah kita ulang-ulangi kata-kata dan doa indah ‘Umar ibnul Khaththab.   
            “Rahmat Allah bagi Abu Sulaiman.
            Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada apa yang ada di dunia.
            Ia hidup terpuji dan berbahagia setelah mati.”

***** T A M A T  *****
Sleman, 8 Rajab 1439 H/25 Maret 2018 M
Pukul 00.30 dini hari

Ibumu Ibu Indonesia Palsu


IBUMU IBU INDONESIA PALSU
                       
Pencerah bagi yang Tersesat
Kutak tahu, atas dasar apa kautulis,
“Aku taktahu syariat Islam”
Ketulusan, ketidakpedulian, keangkuhan, atau kebodohan?
Bersih dan luruskan dahulu niatmu
Pilih dan pedulilah akan hal-hal besar dan mendasar
Buka pandangan agar mampu melihat langit yang begitu tinggi dan luas
Bila karena kebodohan, maukah kaubelajar dari dasar?
Mumpung masih ada waktu untuk menuntut ilmu dan bertobat
Sebelum segalanya menjadi terlambat
Ketika kematian kian dekat dan akhirnya jadi penghambat
Cukupkah sekadar tahu bahwa sari konde ibumu itu sangat indah,
sembari merendahkan cadar ibu orang lain
Mengira gerai tekukan rambutnya suci,
sesuci kain pembungkus wujud ibu orang lain.
Menganggap rasa cipta ibumu sangatlah beraneka
dan menyatu dengan kodrat alam
Karena jari-jemarinya berbau getah hutan,
serta peluhnya tersentuh angin laut
Cukupkah?
Bila jawabmu adalah “cukup”, maka ternyata
begitu sempit dan dangkalnya wawasanmu
Ibarat melihat onggokan tanah,
kauberkata, “Besar dan tinggi sekali gunung ini!”
Saat menemukan genangan air,
kauberteriak, “Alangkah luasnya samudera ini!”
Kaumeminta, “Lihatlah ibu Indonesia”
(padahal itu hanyalah ibu khayalanmu semata,
hasil dari imajinasi kosong dan mimpi siang bolong)
Lalu, menuduh penglihatan orang lain semakin asing
Sok mengingatkan tentang kecantikan asli suku bangsamu sendiri
Sok menasihati bagaimana menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Kaunyatakan (dengan kebanggaan semu dan berita palsu),
“Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia”
“Aku taktahu syariat Islam” sekali lagi kautulis sendiri
Terasa takpeduli, angkuh, dan takmau tahu.
Yang kautahu hanyalah bahwa suara kidung ibumu sangatlah elok
Menurutmu, lebih merdu dari alunan azan
Gemulai gerak tarinya, menurutmu, adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Ilahi
Dan, sekali lagi menurutmu, nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat-ayat alam surgawi
Begitulah celotehmu, melukiskan pengapnya alam khayal dan mimpimu
Justru, di saat pandanganmu sendiri kian pudar dan buyar
Kautertidur dan bermimpi hampa tentang kemolekan sejati suku bangsamu
Konon sejak dahulu kala, suku bangsamu yang beradab
cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya
Ibumu itu ibu Indonesia palsu
Yang mungkin hanya cocok untuk suku bangsa Jawa
Sedangkan Indonesia adalah bangsa yang besar
Persatuan dan kesatuan ratusan suku bangsa dari Aceh hingga Irian Jaya
Bhinneka tunggal ika dari ratusan budaya dan kearifan lokal
Dari itu semua, barulah muncul keindahan hakiki bianglala nusantara
Kautak tahu syariat
Tetapi yang jauh lebih menyedihkan adalah kautaktahu Indonesia
Kautakpaham bahwa sejak zaman purba, nenek moyang kita begitu arif bijaksana
Selalu memadukan agama dan budaya begitu harmonisnya
Yang di era kekinian, tiba-tiba saja, justru kaupertentangkan
Ibu Indonesia adalah Ibu Bhinneka Tunggal Ika
Pengejawantahan dari nilai-nilai Pancasila
Mampu membedakan antara wahyu Ilahi dan budaya manusiawi
Namun penuh semangat toleransi dan harmonisasi
Apa yang mungkin diharapkan dari seorang Sukmawati?
Tidak ada sama sekali!
Syariat tidak mengerti
Budaya pun tak memahami

Sleman,
Selasa, 10 April 2018 M/24 Rajab 1439 H, 13.12

AKU, FLP, DAN DAKWAH KEPENULISAN


AKU, FLP, DAN DAKWAH KEPENULISAN
... Peringatkanlah dengannya agar
setiap orang tidak terjerumus karena perbuatannya sendiri. ...
(al-Quran Surat al-An’am [6] ayat 70)
     Aku harus mulai dari mana? Tepatlah kiranya jika kumulai dengan diriku sendiri saja. Aku akan mulai tulisan ini dengan “aku”. Apa, siapa, dan bagaimanakah aku ini? Aku adalah seorang manusia. Hanya salah satu dari bermiliar-miliar makhluk Allah sang Maha Pencipta. Bahkan, aku hanyalah salah seorang dari sekian miliar manusia di bumi ini. Dan sudah ditakdirkan bahwa aku harus menjadi salah seorang warga dari sebuah negara tertentu.
     Aku tidak tahu mengapa aku dilahirkan pada suatu waktu tertentu. Mengapa aku keluar dari rahim ibuku pada suatu tahun tertentu. Pada tanggal, hari, dan jam tertentu. Aku juga tidak tahu mengapa aku harus lahir dari sepasang suami istri berkewarganegaraan Indonesia. Dan mengapa aku berasal dari keturunan sebuah suku bangsa, suku bangsa Jawa.
     Aku tidak tahu dan tidak pernah berharap. Bahkan aku tidak pernah menginginkan agar terlahir dari sepasang suami istri tertentu. Aku tak pernah minta dilahirkan. Dan aku pun tak pernah memilih dari keturunan siapa aku harus dilahirkan. Aku tak pernah memilih agar dilahirkan di sebuah kota tertentu di sebuah propinsi terentu. Kota yang dinamakan Semarang dan masuk wilayah propinsi yang disebut Jawa Tengah. Sebuah propinsi yang ternyata menjadi bagian dari wilayah sebuah negara tertentu. Sebuah negara yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia dan biasa disingkat NKRI.
     Tahu-tahu aku terlahir pada tanggal 11 bulan Agustus tahun 1960. Begitu saja. Dan, seingatku, aku hanya bisa mengingat kembali dengan jelas baru setelah aku berusia lima tahunan. Tiba-tiba aku sudah berada di dunia ini. Tiba-tiba aku menjadi seorang bocah kecil, anak laki-laki kedua dari kedua orangtuaku. Tahu-tahu aku telah menjadi seorang keturunan suku bangsa Jawa dan hidup di NKRI.
     Begitu saja aku harus menghadapi kenyataan hidup di tengah-tengah suku bangsa Jawa. Lebih jauh lagi, sebagai warga negara Indonesia. Sebuah bangsa yang sangat beragam, heterogen. Bangsa dengan suku, warna kulit, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Bangsa yang memiliki sejarah panjang dan berliku-liku. Sejak kelompok manusia pertama yang menghuni kepulauan yang dulu disebut Nusantara. Mereka telah memiliki agama, kepercayaan, dan kebudayaan mandiri.
     Bahwa bangsa di Nusantara ini pada awalnya sudah mempercayai roh-roh dan kekuatan alam. Demikianlah, bila teori itu memang valid. Roh-roh itu bersemayam di suatu tempat tertentu. Terutama, mereka memuja roh-roh leluhur yang telah meninggal dan berada di alam yang lebih tinggi. Mereka percaya bahwa roh nenek moyang itu tetap dapat melihat dan mengawasi gerak-gerik mereka yang masih hidup. Bahkan yakin bahwa roh leluhur itu dapat menjaga dan membantu mereka saat diperlukan.
     Mereka juga percaya bahwa setiap benda di alam ini mengandung kekuatan tertentu. Tiap benda itu seakan-akan bernyawa. Begitulah mereka percaya bahwa di gunung, laut, pohon, batu, dan bangunan ada “sesuatu” yang menjaganya. Mereka percaya bahwa senjata, seperti keris misalnya, juga dihuni oleh sesuatu kekuatan tertentu. Maka, tak ayal lagi mereka sangat menghormati bahkan hingga memuja benda-benda semacam itu.
     Sejak masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK) hingga dewasa kini, aku masih terus menyaksikannya. Menyaksikan manusia Indonesia, khususnya suku bangsa Jawa, tak mampu melepaskan diri dari kepercayaan akan hal-hal yang bersifat mistis dan mitologis. Masih cukup banyak dari mereka yang lebih berpegang teguh kepada spiritualitas kejawaannya.
     Selama duduk di TK dan Sekolah Dasar (SD), aku mulai mengenal agama Hindu melalui pewayangan. Di sekolah, aku juga mulai mengenal Agama Kristen Protestan. Sementara kedua orang tuaku lebih berpegang kepada budaya Jawa. Mereka menganut aliran kepercayaan Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal). Di kelas 5 SD, kalau tidak salah, oleh ibu guruku yang beragama Kristen, pertama kali aku diperkenalkan dengan sejarah Islam. Di dalam buku teks pelajaran sejarah, disebutkan nama pembawa agama Islam adalah Nabi Mohammad (dengan huruf “o”).
     Ketika duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), barulah aku mulai mengerti apa itu Islam. Pertama aku mengenal “Alloh” (dengan huruf “o”), Nabi Muhammad S. a. w., al-Quran dan al-Hadits. Setelah duduk di Sekolah Menengah Ataslah, terutama di kelas 2, barulah secara serius aku mempelajari Islam. Awalnya, melalui buku Al-Quran dan Terjemahannya tiga jilid, terbitan Departemen Agama.
     Alhamdulillah, setelah mendapatkan pencerahan dari buku tersebut, aku benar-benar yakin telah menjadi muslim. Dari buku itu, aku memahami bahwa ajaran Islam demikian luas, termasuk masalah toleransi beragama. Dari buku itulah aku justru termotivasi untuk melakukan studi atas agama-agama lain, terutama Agama Kristiani. Lengkaplah pengertianku mengapa manusia Indonesia sungguh-sungguh heterogen.
     Setelah aku menjadi muslim, lalu apa yang harus kulakukan? Jelas, aku wajib menuntut ilmu-ilmu keislaman sampai kapanpun. Aku wajib menjalankan ibadah-ibadah yang telah Allah tetapkan. Semuanya demi keselamatan dan kebahagiaan diriku sendiri, juga keluargaku. Tetapi, mungkinkah aku bersikap tak peduli dengan lingkungan sosialku? Tidakkah aku tergerak untuk aktif mendakwahkan Dinul Islam kepada bangsaku, baik yang muslim maupun nonmuslim?
     Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara atau metode dakwah yang tepat? Maka, selama ini yang telah kujalankan adalah dengan tausiyah, khotbah, pengajian, diskusi, dan mengunggah status di face book. Menjelang purnatugas dari PT Taman Wisata Candi Boroubudur, Prambanan & Ratu Boko; aku mulai tertarik pada dunia kepenulisan. Aku segera bergabung ke BBC (Bikin Buku Club) Yogyakarta yang diampu oleh Brili Agung. Aku berhasil menyelesaikan bukuku yang pertama, Art of Life, An Islamic Perspective. Sayang, hingga hari ini belum sempat diterbitkan.
     Sampai suatu saat aku berkenalan dengan Forum Lingkar Pena (FLP). Aku belum begitu mengenal forum ini. Sepintas, yang kutahu hanyalah bahwa organisasi ini bergerak di bidang dakwah kepenulisan Islamiah. Mungkin, ini sudah menjadi kehendak dan rahmat Allah kepadaku. Sejak menjelang purnatugas, aku memang ingin berkarya di bidang kepenulisan. Dua subjek yang menjadi perhatianku adalah agama dan kebudayaan. Tentu Agama Islam khususnya, tetapi juga agama-agama lain. Bagaimana hubungan yang tepat antara agama dan kebudayaan, inilah yang sangat menarik bagiku!
     Indonesia adalah negara yang sangat majemuk. Sangat pluralistik. Di satu sisi, hal ini mudah memunculkan perselisihan dan pertikaian. Tetapi, di sisi lain, dapat pula merupakan potensi yang luar biasa bila terjadi sinergi. Penduduk negara ini sangatlah beragam dalam hal suku, warna kulit, adat istiadat, budaya, bahasa, dan agama. Di Indonesia saat ini, telah diakui secara resmi adanya 6 agama, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, dan Khong Hu Cu. Belum Kepercayaan terhadap Tuhan yang Mahaesa dengan berbagai alirannya.
     Sebelum masuknya agama-agama besar ke nusantara, penduduk negeri ini telah memiliki kebudayaan dan kepercayaan sendiri. Konon, diawali dengan animisme-dinamisme, lalu masuklah agama Hindu-Buddha, Khong Hu Cu (?), dan Islam. Kita juga mengenal adanya klenteng-kelenteng Tridarma, gabungan tiga agama. Mereka yang beribadah di klenteng, klenteng itu menganut gabungan agama-agama Buddha, Khong Hu Cu, dan Tao.
     Keyakinan mereka, khususnya masyarakat Jawa, terhadap budaya spiritual mereka yang asli masih kuat. Mereka mempercayai adanya Tuhan, namun juga mempercayai hal-hal gaib dan mistis sesuai dengan kepercayaan leluhur mereka. Melalui para wali, Agama Islam berhasil diterima oleh mereka dengan baik. Apa rahasianya? Bukankah kebudayaan Jawa terkenal sebagai kebudayaan adiluhung yang kuat. Kebudayaan ini tidak mudah menerima begitu saja adanya pengaruh dari kebudayaan luar atau asing.
     Di sisi lain, kebudayaan Jawa juga bersifat elastis dan fleksibel. Ia bersedia menerima unsur-unsur budaya asing secara terbuka dengan sejumlah persyaratan. Budaya Jawa akan melawan budaya luar bila yang kedua ini bermaksud menundukkannya. Apalagi bila caranya dengan paksaan. Ia hanya mau saling bertukar unsur budaya bila pengaruh asing itu memang dapat menyatu secara harmonis dengannya.
     Itulah metode yang diterapkan oleh Wali Songo dalam menyebarkan Islam ke seluruh nusantara. Sebuah metode yang khas, unik, efisien, dan efektif; yaitu, melalui pendekatan budaya. Mereka berjihad untuk memadukan budaya Islam dengan budaya Jawa. Dengan demikian, terjadilah akulturasi budaya Islam-Jawa. Perhatikan, yang berpadu adalah antara budaya dengan budaya. Bukan antara Islam sebagai dinullah atau agama wahyu dengan budaya Jawa!
     Tetapi, bukankah semua penduduk Indonesia, boleh dikatakan, telah beragama atau berkepercayaan tertentu? Sebagian besar dari mereka telah memeluk agama-agama Hindu, Buddha, Kristiani, Khong Hu Cu, bahkan agama Islam. Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sekitar delapan puluh lima persen warga negaranya adalah para pemeluk Islam. Sisanya, menjadi pemeluk kelima agama lain, serta berbagai aliran kepercayaan terhadap Tuhan yang Mahaesa. Masih perlukah aku berdakwah?
     Kita memahami bahwa Indonesia bukanlah negara sekuler. Tetapi, kita pun menyadari bahwa Indonesia bukan pula sebuah negara agama. Negara sekuler adalah sebuah negara yang bersikap netral terhadap berbagai agama. Tak ada satu pun yang diistimewakan atau didiskriminasikan. Negara sekuler memisahkan dan memilahkan antara agama dengan bidang-bidang kehidupan lainnya. Bidang-bidang itu misalnya sosial, ekonomi, politik, militer, hukum, seni budaya dan sebagainya. Agama tidak boleh ikut campur ke dalam bidang-bidang tersebut.
     Sebaliknya, negara agama adalah negara yang berdasarkan sebuah agama tertentu. Seluruh bidang kehidupan di negara ini diatur oleh agama. Sebagai contoh misalnya Negara Islam. Segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegaranya tentu diatur berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Sistem sosial-politiknya berbentuk khilafah (kekhalifahan). Pemimpin tertinggi negara dipilih dan diangkat oleh rakyat melalui baiat (sumpah setia).
     Nah, Indonesia bukan negara sekuler ataupun negara agama. Indonesia adalah negara Pancasila. Artinya, Indonesia adalah negara yang kehidupan warganya dalam segala aspek didasarkan pada Pancasila. Pancasila menjadi sumber dari segala sumber hukum. Pancasila merupakan dasar falsafah negara, ideologi, pandangan hidup, jiwa, dan kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila adalah intisari kebudayaan Indonesia. Sedangkan ciri khas kebudayaan Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, meski beraneka ragam namun tetap merupakan kesatuan.
     Bagaimana sikap negara Pancasila terhadap agama? Negara mengakui secara resmi dan menjunjung tinggi sejumlah agama tertentu. Negara mendorong pengembangan agama beserta para penganutnya masing-masing. Setiap warga negara bebas memeluk salah satu dari agama tersebut. Mereka juga bebas menjalankan ibadah menurut agama mereka masing-masing. Demikian pula, negara juga memperlakukan Kepercayaan terhadap Tuhan yang Mahaesa dengan cara yang kurang lebih sama. Dalam hal ini, termasuk pula terhadap berbagai aliran beserta para penghayatnya.
     Negara Indonesia berlandaskan Pancasila. Sila pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan yang Mahaesa. “Negara berdasar atas Ketuhanan yang Mahaesa,” demikian bunyi pasal 29 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945. Ini berarti negara mengakui, mempercayai, dan meletakkan Tuhan pada kedudukan tertinggi. Negara menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan agama. Tuhan dan agama ikut menjadi sumber hukum, spiritualitas, etika, dan moral.
     Dapatlah dikatakan bahwa seluruh penduduk Indonesia telah berketuhanan yang Mahaesa. Sebagian terbesar telah menjadi pemeluk enam agama yang diakui. Dan bahkan, mayoritas mereka telah menganut Agama Islam. Seandainya aku ingin berdakwah, siapakah yang layak menjadi sasaran dakwahku? Di dunia ini, jumlah muslim terbesar adalah penduduk Indonesia. Banyak di antara mereka adalah para alim ulama, kiai, habib, da’i, sarjana agama, cendekiawan, dan guru agama. Untuk apa lagi aku juga harus berdakwah?
     Nah, aku tidak pernah minta dilahirkan di Indonesia. Ketika di alam ruh atau rahim pun, aku juga tidak pernah minta jadi muslim. Aku terlahir dan mulai menyadari kehidupan pada usia taman kanak-kanak. Pada saat itulah, aku dihadapkan pada persoalan mau menjadi apa. Seorang penganut Kejawen, Hindu, Kristen Protestan, atau Islam? Begitulah pemikiranku yang amat sempit dan terbatas. Aku merasa bahwa menjadi muslim mungkin hanya karena pengaruh lingkungan saja. Karena pengaruh orang tua, keluarga, tetangga, teman, atau lingkungan pergaulan sosial semata.
     Tetapi, alhamdulillah, berkat al-Quran sebagai wahyu-Nya, pikiranku berubah.
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama;
 fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurutnya.
Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah. Demikian itulah agama
yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
(al-Quran Surat ar-Rum [30] ayat 30)
Menurut firman Allah itu, “agama” (ad-din) yang dimaksudkan adalah Islam. Satu-satunya agama yang diciptakan Allah sesuai dengan fitrah-Nya (fith-ratallah). Sesuai dengan fitrah Allah,  berarti agama yang selaras dengan segala sifat-Nya. Sesuai dengan kesempurnaan, kebenaran, kebaikan, dan keindahan-Nya. Sesuai dengan kemahaagungan dan kemahamuliaan-Nya. Dan karena Allah itu Mahaesa, Mahasatu (al-Wahid), maka Islam itulah satu-satunya agama-Nya (dinullah). Tak ada yang lainnya lagi!
     Kemudian, Allah telah menciptakan manusia menurutnya. “Menurutnya” di sini adalah terjemahan dari kata ‘alayha (atasnya). Dan ha (nya) yang dimaksudkan adalah fitrah Allah yang telah disebutkan sebelumnya. Jadi, manusia itu telah diciptakan Allah berdasarkan atas fitrah-Nya itu pula. Manusia—bahkan segala sesuatu—diciptakan sesuai dengan sifat-sifat kemahaesaan dan kemahasempurnaan Allah. Manusia tercipta selaras dengan kebenaran, kebaikan, dan keindahan Allah.
     Ketentuan bahwa manusia diciptakan selaras dengan fitrah Allah itu tak akan pernah berubah. Ketentuan itu bersifat mutlak dan abadi. Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah. Ciptaan Allah adalah terjemahan dari kata khalqillah (makhluk Allah). Jadi, pada dasarnya, segala makhluk tercipta dengan fitrah atau tabiat asali yang sama. Ini merupakan ketetapan Allah yang abadi. Pada kenyataannya, dapat saja terjadi perubahan. Maka, bukanlah hukum fitrah itu sendiri yang berubah, tetapi makhluk-Nya itulah yang berubah.
     Agama Islam adalah ad-din al-qayyim (agama yang lurus). Al-qayyim (lurus) artinya benar, bebas dari kesalahan. Ini karena Islam adalah agama Allah. Akibatnya, Islamlah satu-satunya agama yang benar (menurut Allah dan fitrah-Nya). Konsekuensi selanjutnya adalah, manusia, sesuai fitrah-Nya, hanya akan menganut Islam. Faktanya, banyak manusia memeluk agama-agama atau keyakinan-keyakinan selain Islam. Mengapa? Karena kebanyakan manusia memang tidak mengetahui (la ya’lamun).
     Tidak mengetahui berarti pula tidak mengerti, tidak memahami, dan tidak menyadari. Celakanya, mereka yang tidak mengetahui banyak yang akhirnya menjadi tidak mau mengetahui. Jika bukan karena hidayah Allah, mereka pasti akan dalam keadaan begitu selama hidupnya. Masalahnya, Allah menggunakan ungkapan aktsaran an-nas (kebanyakan manusia). “Kebanyakan” dapat bermakna “sebagian besar” atau “mayoritas”. Dan ini tidak hanya meliputi nonmuslim saja, melainkan termasuk sebagian muslim juga.
     Dari situ, kesadaran dan motivasiku untuk berdakwah muncul kembali. Bukankah Rasulullah S. a. w. telah memerintahkan kepada setiap muslim untuk “Sampaikanlah olehmu dariku walau hanya satu ayat”? Perlu diingat bahwa mereka yang tidak atau belum mengetahui ajaran Islam hakiki mencakup muslim dan nonmuslim. Dengan demikian, “pasar” dakwah kita teramat luas.
     Allah S. w. T. memerintahkan dalam al-Quran Surat al-An’am ayat 70 agar tiap muslim memperingatkan siapapun. “Peringatkanlah dengannya agar setiap orang tidak terjerumus karena perbuatannya sendiri.” Memperingatkan dengan apa? “Dengannya” (bihi). “Nya” (hi) dalam ayat tersebut yang dimaksud adalah al-Quran. Tujuannya jelas, agar tiap diri (nafsun) terhindar dari tubsala. Makna sebenarnya dari tubsala adalah “akan dibinasakan”. Jadi, peringatan itu bermanfaat untuk menghindarkan diri dari kebinasaan.
     Mengapa orang-orang yang tidak mengindahkan peringatan itu akan binasa? Ya, karena itu berarti mereka tidak mengindahkan al-Quran sebagai firman Allah. Ngerinya, kebinasaan itu abadi. Kebinasaan di neraka (an-nar). Oleh sebab itulah, tubsala lalu diterjemahkan dengan “terjerumus” (ke dalam neraka). Dan mereka terjerumus ke dalam neraka akibat perbuatan mereka sendiri (bima kasabat).
     Apa perbuatan yang menyebabkan manusia terjerumus ke dalam neraka? Mereka terjerumus ke dalam neraka karena tidak mengindahkan al-Quran. Allah dengan al-Quran memperingatkan manusia agar kembali kepada fitrah penciptaannya. Mereka harus menjadi hamba Allah yang berserah diri dan taat kepada-Nya (muslim). Kembali ke tabiat asli dan berserah diri kepada Allah berarti memeluk Islam, satu-satunya agama Allah (dinullah).
     Tugas dakwah hakikatnya adalah menyelamatkan manusia dari kebinasaan abadi. Dengan perintah itu, kita dilarang untuk bersikap egois. Hanya mengupayakan keselamatan diri pribadi dan keluarga saja, contohnya. Kita wajib peduli bahkan bersikap proaktif. Berdakwah kepada diri sendiri, keluarga, kerabat, tetangga, lingkungan sosial, saudara sebangsa, bahkan kepada manusia pada umumnya. Tidak membedakan muslim ataupun nonmuslim.
     Aku berpikir, selama ini aku memang telah dapat berdakwah sendiri. Tetapi, alangkah lebih baiknya bila dapat berdakwah secara berjamaah. Insya’allah, Forum Lingkar Pena Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dapat memenuhi hal itu. Alasannya, dakwah kepenulisan nampaknya lebih efisien dan efektif daripada dakwah lisan.
     Sejak lama aku gemar membaca, belajar, dan berdiskusi, khususnya masalah keagamaan. Hingga terpikir olehku bahwa sesungguhnya aku juga suka menulis. Aku yakin punya bakat menulis. Ini adalah karunia Allah yang besar. Karunia ini wajib aku kembangkan secara maksimal. Aku punya harapan besar jika aku dapat bergabung ke dalam FLP.
     Sebelum berdakwah lewat tulisan, tentu kita harus mempersiapkan segala sesuatunya. Kita butuh bekal yang memadai, mengerti seluk beluk medan dakwah, siapa yang menjadi sasaran dakwah, bagaimana metodenya dan lain sebagainya. Pertama-tama, tentu kita harus bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku seorang muslim?” “Muslim” bukan hanya karena di KTP kita tecantum “Agama: Islam”. Bukan pula sekedar identitas yang ketika ditanya kita menjawab dengan ragu-ragu. Paling tidak, kita memahami—meski serbaterbatas—kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama Allah. Kita beriman kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan atau sesembahan yang wajib diibadahi. Kita mengimani Nabi Muhammad S. a. w. sebagai penutup semua nabi dan rasul-Nya.
     Selanjutnya, kita tidak mencampur keislaman kita dengan agama atau keyakinan apa pun lainnya. Kita hanya mengimani al-Quran sebagai satu-satunya firman Allah yang hakiki. Mengimani bahwa setiap huruf dari kitab itu semata-mata berasal dari Allah. Bahwa al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad S. a. w. yang abadi. Orisinalitas atau keaslian al-Quran sejak diwahyukan pertama kali hingga kapanpun tetap dijamin oleh Allah sendiri. Tidak ada kitab suci lain yang seperti itu.
     Kita juga harus yakin bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur dengan sebaik-baiknya kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya. Islam yang dibawa Nabi Muhammad S. a. w. adalah satu-satunya agama Allah untuk semua manusia. Bukan hanya untuk suatu suku bangsa tertentu saja. Islam akan tetap relevan bagi seluruh manusia di semua tempat dan zaman. Syariat Islam mampu menjawab berbagai persoalan manusia sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman.
     Kita harus merasa senang dan bangga menjadi muslim. Kita senang dan bangga juga ketika berbicara, belajar, dan berdiskusi tentang Islam. Kita senang membaca buku-buku tentang Islam. Secara khusus, kita harus punya minat dan perhatian pula terhadap hadits-hadits Nabi S. a. w. Mau mempelajari berbagai hadits untuk mengetahui kesahihannya.
     Selain gemar membaca buku, tentang Islam khususnya, kita juga harus punya minat di bidang kepenulisan. Ini prasyarat wajib, mengingat kita akan bergerak di bidang dakwah kepenulisan. Bekal utama untuk menulis, tentunya, adalah al-Quran dan as-Sunnah. Selain itu, perlu dilengkapi dengan literatur berupa ilmu-ilmu keislaman lainnya. Buku-buku bermutu tentang berbagai disiplin ilmu pastilah juga bermanfaat. Kita perlu mempelajari filsafat, kebudayaan, ilmu-ilmu eksakta, dan ilmu-ilmu sosial.
     Seluk beluk medan dakwah harus kita pelajari dengan cermat. Masyarakat Indonesia sangatlah majemuk. Mereka terdiri atas beragam suku bangsa. Mereka memiliki bahasa daerah, adat istiadat, falsafah hidup, dan agama atau keyakinan yang berbeda-beda. Bahkan yang muslim pun mempunyai corak pemikiran yang berbeda-beda. Setidaknya, ada yang tradisionalis dan yang modernis. Ada yang mempertahankan keislaman yang murni dan ada pula yang menyesuaikannya dengan budaya setempat. Ada yang berpikir konservatif dan ada yang liberal.
     Hal yang tak boleh dilupakan adalah bahwa Indonesia itu negara Pancasila. Pancasila menjadi ideologi, dasar falsafah, pandangan hidup, kepribadian, jati diri, dan jiwa bangsa Indonesia. Maka, metode dan cara berdakwah kita harus mempertimbangkan semua ini. Intinya, bagaimana kita mampu mengintegrasikan Islam dengan Pancasila. Menyinergikan keislaman dan keindonesiaan.
     Kita harus memilih, mana yang harus diprioritaskan muslim atau nonmuslim? Jawabannya tentu muslim. Begitu pula, dalam menentukan sasaran dakwah kita. Pemahaman, keyakinan, kebanggaan, penghayatan, dan pengamalan kaum muslimin terhadap Islam wajib kita bangun terlebih dahulu. Jangan sampai terus saja terjadi, umat Islam Indonesia hanya menang dalam jumlah. Namun, kalah dalam kualitas.
     Mendakwahi umat Islam Indonesia harus memperhitungkan sejumlah faktor. Faktor-faktor itu meliputi suku bangsa, adat istiadat, budaya, kearifan lokal dan sebagainya. Lebih-lebih berdakwah kepada mereka yang nonmuslim, tentu harus memahami dan menghormati agama atau keyakinan mereka. Di sinilah pentingnya peran ilmu perbandingan agama. Pendekatan melalui apresiasi dan diskusi yang empatik adalah tepat.
     Apa yang dapat dilakukan Forum Lingkar Pena, khususnya Wilayah Yogyakarta? Banyak hal yang dapat dikerjakan. FLP merupakan forum informasi, komunikasi, silaturahmi, diskusi, konsultasi, koordinasi, dan aksi para penggiat dakwah kepenulisan. FLP dapat pula menjadi wadah pendidikan dan pelatihan para penggiat itu. Kualitas sumber daya manusia para dai dapat pula diolah dan ditingkatkan di forum ini.
     Aku sangat berharap bahwa FLP dapat menjadi forum penggodokan ide dan metode dakwah kepenulisan. Di sinilah tempat materi dakwah didiskusikan, diolah, dan ditulis. FLP harus mampu memproduksi karya-karya bermutu. Karya-karya tulis itu hendaknya selaras dengan kebutuhan sasaran dakwah masa kini. Semuanya dikemas dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, menarik, kreatif, dan segar.
     FLP harus peka dan mampu memilih dan memilah isu-isu kekinian. Beberapa topik aktual misalnya adalah teknologi digital, gender, LGBT, pengaruh budaya barat, dan terorisme. FLP diharapkan mampu membuat Islam, al-Quran, dan as-Sunnah membumi. Kita harus mampu memfungsikan Islam secara faktual sebagai pemandu. Pemandu dalam berbagai persoalan kehidupan yang sungguh-sungguh riil.
     FLP harus merespon secara positif konsep Islam Nusantara. Sebuah konsep yang digagas dan didukung oleh Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah. Tetapi FLP pun harus mampu mengritisi dan mengawal aplikasinya. FLP harus mampu menjembatani perbedaan yang telah berumur panjang di antara kedua organisasi massa Islam itu. Persatuan dan kesatuan umat Islam Indonesia harus mendapatkan prioritas.
     Sesungguhnya apa yang pertama-tama harus didakwahkan? Bahwa Islam adalah dinullah (agama Allah) yang diwahyukan oleh al-Khaliq (sang Maha Pencipta) sendiri. Nama agama ini adalah Islam, bukan Muhammadanisme seperti diistilahkan oleh orang-orang Barat. Kita masih dapat menerima bila ia disebut Islamisme. Nama “Islam” berasal dari Allah, bukan dari manusia. Karena itu, ia berbeda dengan Hinduisme, Buddhisme, Yudaisme, atau Kristianisme.
     Islam bukanlah agama yang hanya dibawa oleh Nabi Besar Muhammad S. a. w. saja. Islam adalah satu-satunya agama yang diwahyukan oleh Allah kepada seluruh nabi. Menurut sebuah hadits, seluruh nabi berjumlah 124.000 orang. Di antara mereka itu, 313 orang adalah rasul. Sejak Adam sebagai manusia dan nabi yang pertama hingga Nabi Besar Muhammad S. a. w. hanya menyampaikan Islam. Islam mengimani semua nabi dan tidak membeda-bedakan mereka. Mana ada agama lain yang seperti ini? Sifat khas Islam adalah apresiatif terhadap para nabi dan kitab suci yang mereka bawa. Terutama kepada Nabi Nuh a. s., Nabi Ibrahim a. s., Nabi Musa a. s., dan Nabi Isa a. s.  
     Allah (bahasa Arab) adalah sebuah nama pribadi, bukan gelar atau kedudukan. Berbeda dengan ilah yang artinya “dewa”, “sembahan”, atau “tuhan”. Ilah (tuhan) hanyalah sebutan umum yang menunjukkan kedudukan atau jabatan, bukan nama. Inti pokok ajaran Islam adalah La ilaha illallah. Itu bermakna “tak ada (la) Tuhan (ilaha) kecuali (illa) Allah (‘llah)”. Dari kalimat syahadat itu, jelas berbeda antara ilah dengan Allah. Terjemahan bahasa Inggrisnya yang tepat mungkin No God but Allah.
     Allah berasal dari gabungan kata al dan ilah. Al dalam bahasa Arab adalah kata sandang yang merujuk pada sesuatu yang sudah tertentu. Padanannya dalam Bahasa Inggris adalah the (definite article). Jadi Allah itu bermakna “sang Tuhan” atau “Satu-satunya Tuhan”. “Satu-satunya” dalam pengertian “satu-satunya Tuhan yang hakiki, yang sejati”. Dialah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah dan diibadahi. Yang lainnya adalah Tuhan, sembahan, dan dewa palsu.
     Perlu diketahui bahwa kata Allah memiliki padanan dengan El, Eloah, Elohim, Elah, atau Alah. El, Eloah, dan Elohim adalah kata-kata dalam Bahasa Ibrani. El mungkin berasal dari Bahasa Kanaan kuno. Ketiganya berarti “sembahan”, “dewa”, atau “tuhan”. Eloah sangat mirip dengan Allah. Memang Bahasa Ibrani dan Bahasa Arab adalah bahasa serumpun. Adapun Elah atau Alah adalah dari Bahasa Aram yang juga berarti “tuhan”. Aram, Arami, Aramia, atau Aramik adalah bahasa sehari-hari yang dipakai Nabi Isa a. s. dalam berdakwah.
     Kesalahan besar yang menimbulkan perbedaan sekaligus kerancuan adalah masalah terjemahan. Dalam Alkitab (terjemahan kitab suci agama Kristiani), banyak ditemukan kata-kata “Allah”, “allah”, “ilah”, “TUHAN”, “Tuhan”, dan “tuhan”. Kata “Allah” (Indonesia) adalah terjemahan dari kata El, Eloah, dan Elohim (Ibrani) atau Theos (Yunani). Karena itu “Allah” (“allah”) hanya berarti “sembahan”, “tuhan”, atau “dewa”. Allah (Arab) menjadi sama artinya dengan ilah (Arab). “Allah” hanyalah jabatan atau kedudukan, bukan nama pribadi.
     Sebenarnya Eloah (Ibrani) sepadan dengan Elah atau Alah (Aram), sepadan pula dengan ilah (Arab). Jadi, mestinya Eloah harus diterjemahkan dengan “ilah” atau “tuhan” (Indonesia). Dalam Islam (Arab), Allah bukan ilah, dan juga sebaliknya. Sedangkan Allah (Arab) padanannya yang tepat dalam bahasa Aram adalah Elaha atau Alaha. Ha di belakang kata Elah atau Alah itu sama fungsinya dengan kata Al (Arab). Bahasa-bahasa Arab, Ibrani, dan Aram adalah serumpun.
     Tidak seperti agama lain--Hindu, Yahudi, dan Kristiani misalnya—Islam diturunkan untuk seluruh manusia, bukan untuk bangsa tertentu saja. Bukan khusus untuk Bangsa Arya (Hindu) atau Bangsa Israel saja (Yahudi dan Kristiani). Islam telah ditetapkan oleh Allah sebagai rahmatan lil ‘alamin atau “rahmat bagi semesta alam’ (al-Quran Surat al-Ambiya’ [21] ayat 107). Itulah sebabnya, di dalam al-Quran tidak ada pujian bagi Bangsa Arab sebagai bangsa pilihan Tuhan. Tak ada seruan “Wahai Bangsa Arab!”, yang ada Ya ayyuhannas! (Wahai manusia!).
     “Rahmat” berarti “kasih sayang”. Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, berarti Islam adalah ungkapan dan curahan kasih sayang Allah atas seluruh alam. Allah adalah ar-Rahman dan ar-Rahim, sang Maha Pemurah, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Islam diturunkan terutama untuk manusia, tetapi ia adalah rahmat Allah untuk seluruh alam. Islam membawa keimanan, prinsip, konsep, hukum, aturan, dan panduan agar semesta alam merasakan kasih sayang-Nya.
     Selanjutnya, “Islam” itu sendiri dapat bermakna “damai”, “selamat”, atau “sejahtera”. Jelas, bahwa Islam diturunkan untuk menciptakan dan memberikan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan. Inilah visi dan misi Islam. Allah itu as-Salam (Mahadamai) sehingga Dia hanya menurunkan Islam (damai) sebagai satu-satunya agama-Nya. Ucapan antarmuslim adalah assalamu ‘alaikum (semoga kedamaian atasmu). Penghormatan kepada seluruh nabi adalah juga ‘alaihis salam (semoga kedamaian atasnya). Akhirnya, Islam menyeru manusia menuju ke darussalam (tempat yang penuh kedamaian) alias surga.
Dan sungguh ia benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin, ke dalam hatimu agar engkau termasuk di antara
orang-orang yang memberi peringatan, dengan Bahasa Arab yang jelas. Dan sungguh
ia benar-benar di dalam kitab-kitab orang-orang yang terdahulu.

(al-Quran Surat asy-Syu’ara [26] ayat 192-196)
Yang dimaksud dengan hu (ia) dalam ayat ini adalah al-Quran. Ar-Ruh al-Amin (Roh yang Terpercaya) adalah Malaikat Jibril a. s. Dalam kata litakunu (agar engkau menjadi), “engkau” adalah Nabi Muhammad S. a. w. Al-Quran diturunkan oleh Allah, melalui Jibril, kepada Nabi S. a. w. agar beliau menjadi pemberi peringatan (al-mundzirin). Dengan al-Quran itulah, beliau memperingatkan manusia. Al-Quran memang diturunkan dalam Bahasa Arab yang jelas. Dan al-Quran sudah disebutkan di dalam kitab-kitab suci sebelumnya, seperti Taurat, Zabur, dan Injil.
     Betapa penting dan pokoknya al-Quran itu. Dengannyalah kita akan mampu berdakwah dengan sebaik-baiknya. Al-Quran menjadi sumber inspirasi, ilmu pengetahuan, motivasi, pemandu, dan kekuatan bagi para dai. Di samping al-Quran dan as-Sunnah, alangkah baiknya bila kita melengkapi diri dengan berbagai disiplin ilmu lainnya. Semakin luas wawasan kita semakin berkualitas dakwah kita. Semuanya dapat menjadi bahan tulisan dakwah yang tak ada habis-habisnya.
     Sebagai penutup, mari kita bangun gairah dalam berdakwah. Tak peduli kepada siapa pun, terutama kepada umat Islam sendiri. Ingat, tugas kita hanyalah menyampaikan. Tentang hasilnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Bila dakwah tertulis sudah kita lakukan. Selesai sudah. Tentu harus ikhlas agar Allah meridai. Tak perlu takut atau ragu. Tugas kita hanya menyampaikan, sesuai firman Allah berikut ini.
Maka jika mereka berpaling, maka sungguh
kewajiban atasmu hanyalah menyampaikan dengan terang.

(al-Quran Surat an-Nahl [16] ayat 82)
Bahkan tugas Rasulullah S. a. w. pun hanyalah menyampaikan dengan jelas. Setelah menerima dakwah beliau, seseorang akan mengikutinya atau tidak, itu bergantung kepada dua hal. Pertama, Allah berkenan mengaruniakan hidayah-Nya atau tidak. Kedua, orang yang bersangkutan bersedia membuka pintu hatinya atau tidak. Jadi, kita tak perlu risau atau kecewa andai dakwah kita ditolak.
     Tugas utama kita adalah mengusahakan persatuan dan kesatuan umat Islam Indonesia. Mengajak dan mendorong mereka untuk mencintai beberapa hal berikut di atas hal-hal lainnya. Mereka harus mencintai Allah, Rasulullah S. a. w. (termasuk ahli keluarga dan para sahabat beliau), al-Islam, al-Quran, as-Sunnah, para ulama dan sesama muslim. Kecintaan yang melebihi kecintaan mereka kepada kepentingan-kepentingan lainnya.
     Bagaimana mungkin bangsa Indonesia dapat bersatu jika umat Islam yang menjadi mayoritas penduduknya terpecah belah. Perpecahan umat dapat terjadi karena mereka lebih mencintai mazhab, ulama atau ustadz, kelompok, dan partai mereka masing-masing. Belum kepentingan-kepentingan lainnya seperti politik, ekonomi, dan sebagainya. Perbedaan tafsir atas ayat al-Quran dan as-Sunnah sudah cukup untuk memicu pertikaian. 
     Alangkah besar harapanku bila aku dapat bergabung ke dalam FLP, khususnya wilayah Yogyakarta. Selain dapat menyalurkan bakat menulisku, ada kesempatan berjihad di bidang dakwah Islamiah. Semoga Indonesia akan dapat menjadi negara Pancasila yang bersyariah. Dan Islam benar-benar menjelma menjadi rahmatan lil ‘alamin di negara ini, bahkan di tingkat global.


Sleman, Kamis, 21 Jumadil ‘Awwal 1439 H./8 Februari 2018 M.
Sonny Wimmar