SAAT-SAAT TERAKHIR
SANG PEDANG ALLAH
SANG PEDANG ALLAH
Di Homs. Ya, di Homs,
di Suriah. Tepatnya di sebuah rumah yang cukup sederhana. Lelaki itu tergeletak
tak berdaya di atas tempat tidurnya. Tubuhnya nampak lemah tak bertenaga. Tapi
kedua matanya masih menyimpan api semangat yang tetap membara. Sorot matanya
sangat tajam. Ia terus menatap ke atas, ke arah langit-langit rumahnya. Lelaki
dengan postur tubuh tinggi, kekar, dan berotot. Kulitnya putih kemerah-merahan.
Wajahnya berwibawa dengan janggut yang lebat. Dia bukan sembarang lelaki.
Dialah Khalid bin Walid radhiyallahu
‘anhu, salah seorang sahabat utama Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.
“Ah, haruskah aku mati hanya dalam keadaan
seperti ini?,” keluhnya dengan kesal. “Sejak aku masih remaja, duniaku adalah
perang, perang, dan perang. Setiap tarikan napas, denyut jantung, dan aliran
darahku adalah untuk perang,” pikirannya mulai menerawang. Tiba-tiba saja
ingatannya tertuju kepada masa silam di saat ia belum masuk Islam. Terbayang
betapa banyak dosa yang telah dilakukannya. Ia adalah salah seorang pemuka
Quraisy yang menindas dan menganiaya kaum muslimin dengan kejamnya.
Teringat ia bagaimana sepak terjangnya
dalam Perang Uhud. Pasukan Quraisy, yang mana Khalid menjadi komandan kavaleri,
berjumlah tiga ribu prajurit. Sedangkan kaum muslimin, langsung di bawah
pimpinan Nabi S. a. w., hanya berkekuatan tujuh ratus orang. Sungguh, kemenangan
sudah berada di pihak tentara Islam. Pasukan musyrikin menjadi kacau balau dan
lari tunggang langgang. Banyaknya prajurit dari pihak Quraisy terbukti tidak
sanggup menolong untuk meraih kemenangan.
Dalam keadaan kritis itu, Khalid bin Walid
memandang ke arah lereng-lereng bukit. Ia menyaksikan puluhan anggota regu
pemanah meninggalkan tempatnya. Mereka turun untuk ikut mengambil barang
rampasan perang yang berjatuhan dari pasukan musyrikin. “Nah, ini peluang
bagus. Bagian belakang pasukan muslimin sudah tidak dijaga lagi kecuali
beberapa orang saja. Ini saat yang tepat untuk menghancurkan mereka,” gumamnya
penuh harapan. Maka menyerbulah Khalid bersama pasukan berkudanya tanpa dapat
dibendung lagi.
Serangan gencar pasukan Khalid dari arah
belakang itu membalikkan keadaan. Kaum muslimin yang sedang sibuk memunguti
harta rampasan perang menjadi kocar-kacir. Gugur dalam perang ini, Hamzah bin
‘Abdul Muththalib, “Singa Allah dan Singa Rasul-Nya”. Beliau adalah paman
tercinta Rasulullah S. a. w. Bahkan, Nabi sendiri menderita luka yang cukup
serius. Sempat beredar isu bahwa beliau telah terbunuh.
Penyesalan tampak di wajah Khalid yang
kini tergeletak di atas pembaringannya. Namun kemudian ia tersenyum saat
teringat akan salah satu hari kebahagiaannya. Ia pernah bercerita, “Allah
membukakan hatiku untuk Islam. Aku sudah memutuskan untuk masuk Islam dan
menemui Nabi S. a. w. di Madinah. Aku perlu seseorang yang mau menemaniku.
Bertemulah aku dengan ‘Utsman bin Thalhah dan aku sampaikan maksudku kepadanya.
Ternyata ia setuju. Ketika sampai di sebuah dataran tinggi, kami bertemu dengan
‘Amr bin ‘Ash.
“Hendak ke manakah, tuan-tuan ini?”
“Kami hendak ke Madinah menemui Muhammad
untuk masuk Islam”
‘Amr bin ‘Ash rupanya juga punya niat yang
sama. Maka, berangkatlah mereka bertiga dan sampai di Madinah pada awal bulan
Safar tahun kedelapan Hijriyah.
Di depan Rasulullah S. a. w., Khalid
menyampaikan salam kenabian. Nabi membalas salam itu dengan wajah cerah. Khalid
segera bersyahadat.
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi
hidayah kepadamu. Sungguh aku telah mengetahui bahwa engkau seorang yang
cerdas. Dan aku berharap, kecerdasan itu hanya akan menuntunmu kepada jalan
kebaikan,” sabda Nabi sambil tersenyum.
“Mohon kiranya engkau mohonkan ampun
untukku atas semua tindakan masa laluku yang menghalangi jalan Allah,” Khalid meminta
dengan wajah mengiba.
“Sesungguhnya keislaman itu telah
menghapuskan segala perbuatan yang lalu,” jawab Nabi singkat. Namun Khalid
tetap mendesak beliau agar berkenan mendoakannya.
“Ya Allah, aku mohon kiranya Engkau ampuni
dosa Khalid ibnul Walid karena tindakannya menghalangi jalan-Mu di masa lalu,”
Nabi berdoa dengan penuh kesungguhan.
Kenangan yang indah itu disusul dengan
kenangan indah berikutnya. Tibalah kaum muslimin harus bertempur melawan
pasukan Romawi di Muktah. Pasukan muslimin kurang dari tiga ribu orang
berhadapan dengan seratus lima puluh ribu orang lawannya. Khalid baru saja
masuk Islam sehingga ia tidak wajib ikut dalam peperangan ini. Tetapi sebagai
kesatria yang “berdarah perang”, tentu ia tak mungkin tinggal diam.
Satu per satu dari ketiga panglima perang
yang ditunjuk Nabi, gugur di medan laga. Tsabit bin Arqam segera mengambil
panji perang dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!”
teriak Tsabit kepada Khalid bin Walid.
Khalid hanyalah seorang prajurit biasa.
Lagi pula, ia baru saja masuk Islam. Dengan rendah hati, ia menjawab, “Tidak...
jangan saya. Andalah yang lebih berhak memegangnya. Anda lebih berusia dan
telah menyertai Perang Badar.”
“Ambillah, sebab Anda lebih tahu siasat
perang daripada saya. Dan demi Allah, saya tak akan mengambilnya kecuali untuk
saya serahkan kepada Anda!” tegas Tsabit. Kemudian ia berseru kepada seluruh
anggota pasukan, “Bersediakah kalian di bawah pimpinan Khalid?”. Mereka
serempak menjawab, “Setuju!”.
Perbandingan jumlah personil, peralatan,
dan pengalaman antara kedua pasukan, jelas jauh dari seimbang. Tak ada taktik perang
yang bagaimana pun yang mampu merubah kekalahan menjadi kemenangan.
Satu-satunya yang masih mungkin dilakukan hanyalah menghindarkan pasukan Islam
ini dari kemusnahan total. Perlu diingat, pengunduran diri semacam ini pun nampaknya
termasuk hal yang mustahil. Tapi adakah sesuatu yang mustahil bagi hati yang
berani? Maka, siapa pula orang yang lebih pemberani dibanding Khalid? Siapakah
yang lebih hebat kepahlawanannya? Dan siapa yang lebih tajam pandangannya
daripada dia?
Di sinilah, Khalid bin Walid mempertunjukkan
kepahlawanan dan kejeniusannya sebagai panglima. Dan dikarenakan Perang Muktah
inilah, Rasulullah S. a. w. menggelarinya Sayfullah
al-Maslul, Pedang Allah yang Senantiasa Terhunus. Nabi pernah bersabda, “Khalid
bin Walid itu sebilah pedang dari sekian pedang Allah yang dihunuskan kepada
orang-orang kafir dan munafik.”
Ingatan Khalid terus melayang ke beberapa
puluh tahun yang lalu. Yaitu, saat Nabi beserta sepuluh ribu pasukan muslimin
membebaskan kota Mekah. Untuk bagian sayap kanan pasukan, Rasulullah S. a. w.
mengangkat Khalid sebagai pimpinannya. Gemuruh suara tahlil, dan takbir,
bercampur suara ringkikan kuda-kuda. Alangkah bahagia dan terharunya hati
Khalid. Kali ini, ia memasuki Mekah sebagai salah seorang pemimpin pasukan umat
Islam. Ia bukan tergolong mereka yang masuk Islam karena terpaksa, sekadar
terbawa-bawa oleh kemenangan ini.
Khalid juga tidak lupa, setelah itu
Rasulullah S. a. w. mengutusnya untuk berdakwah, bukan berperang. Ketika ia
menjumpai Bani Jadzimah, mereka berkata, “Kami telah keluar dari agama! Kami
telah keluar dari agama!” Mendengar kata-kata ini, Khalid memerintahkan
pasukannya membunuh sebagian mereka. Sisanya ditawan. Tetapi kemudian ia juga
membunuh tawanan tersebut. Khalid merasa telah terjadi kesalahpahaman.
Peristiwa ini lalu dilaporkan kepada Nabi.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri
kepada-Mu dari apa yang telah dilakukan Khalid ibnul Walid,” begitu doa Nabi
dengan rasa sedih bercampur marah. Inilah insiden yang mungkin menyebabkan
hubungan persahabatannya dengan ‘Umar bin Khaththab mulai renggang. ‘Umar
berpendapat bahwa Khalid terlalu cepat menggunakan pedangnya. Ia khawatir akan
banyak korban berjatuhan di tangan saudara sepupunya itu. Padahal, bisa jadi
ini karena Khalid kurang memahami ucapan “Kami telah keluar dari agama”. Ia
menangkap kalimat itu sebagai, “Kami telah murtad dari Islam”.
Meskipun begitu, Rasulullah S. a. w. tidak
pernah memecat Khalid bin Walid sebagai panglima. Demikian pula, setelah Nabi
wafat, dan Abu Bakar ash-Shiddiq menggantikan beliau sebagai khalifah. Sang
Pedang Allah tetap menduduki jabatannya sebagai panglima besar pasukan Islam.
Kemenangan demi kemenangan, keajaiban demi keajaiban, terjadi berkat prestasi
luar biasa dari Abu Sulaiman. Nama beserta gelarnya menyebar dengan cepatnya ke
seantero bumi.
Suatu saat, Georgius, seorang panglima
Romawi, pernah mengundangnya. Ketika peperangan tengah berhenti, Khalid pun
memenuhi undangan itu. Setelah saling berhadapan muka, panglima Romawi itu
segera membuka percakapan, “Tuan Khalid, jujurlah Anda kepada saya. Jangan
berbohong, sebab orang merdeka tak akan berbohong!
“Apakah Allah,” sambungnya tak sabar
“telah menurunkan sebilah pedang kepada Nabi Anda dari langit. Lalu, pedang itu
diberikannya kepada Anda sehingga setiap Anda hunuskan kepada siapa pun, pedang
itu pasti membinasakannya?!”
“Astaghfirullah!”, gumam Khalid dalam
hati. Setelah menghela napas sejenak, ia menjawab tanpa kesombongan sedikit pun
, “Oh, tidak!”
“Mengapa Anda dinamai Pedang Allah?”,
panglima Romawi itu terus mendesak karena merasa penasaran.
“Sesungguhnya Allah telah mengutus
Rasul-Nya kepada kami. Dahulunya, saya termasuk orang yang mendustakan beliau.
Akhirnya Allah membukakan hati saya sehingga menerima Islam, agama yang beliau
bawa. Saya berjanji setia kepada beliau. Lalu, beliau bersabda kepada saya,
‘Engkau adalah Pedang Allah di antara sekian pedang-pedang-Nya.’ Demikianlah,
maka saya diberi nama Pedang Allah.”
Rupanya si panglima itu makin penasaran
terhadap Islam. Ia banyak bertanya jawab dengan Khalid. Sebelum menutup
pembicaraan, Georgius meminta dengan sungguh-sungguh, “Ajarkanlah Islam itu
kepada saya, wahai Tuan Khalid!”. Maka, masuk Islamlah dia. Georgius sempat
mengerjakan salat dua rakaat, satu-satunya salat yang mampu ditegakkannya.
Panglima ini berbalik haluan. Ia berperang di pihak kaum muslimin hingga gugur
sebagai syuhada.
Pada kesempatan lain, Khalid memasuki
Nejd, wilayah perkampungan Bani Tamim. Banyak dari anggota
suku itu yang bergegas menyatakan tunduk kepada kekuasaan kekhalifahan. Tetapi,
suku Bani Yarbu, di bawah pimpinan Malik bin Nuwayrah, menolak untuk menyerah.
Ia malah melarikan diri melintasi padang pasir. Namun, ia tertangkap lalu
dihadapkan kepada Khalid. Dari keterangannya, Khalid menyimpulkan bahwa Malik
telah murtad dan memberontak. Khalid memerintahkan seorang anggota pasukannya
untuk membunuh Malik. Setelah kematiannya, pada malam harinya, Khalid menikahi
mantan istri Malik, Layla binti Minhal. Dia adalah seorang wanita yang sangat
cantik.
‘Umar bin Khaththab sangat gusar
mengetahui kejadian itu. Ia menghadap Abu Bakar dan mengusulkan pemecatannya,
“Sesungguhnya pada pedang Khalid itu ada rohaq-nya.”
Rohaq adalah sesuatu yang identik
dengan “kelancangan, ketergesaan”, dan “ketajaman”. ‘Umar tidak menyatakan
bahwa Khalid itu lancang dan tergesa-gesa. Ia hanya mengatakan bahwa pedang
Khalid itulah yang “terlalu cepat”, bukan pribadi pemilik pedangnya. Ini bukan
hanya mengungkapkan adab kesopanan, tetapi bahwa ‘Umar tetap berprasangka baik.
“Hai ‘Umar, dia telah berusaha menimbang
tapi keputusannya salah. Jangan berkata yang bukan-bukan tentang Khalid,”
sergah Khalifah Abu Bakar yang mulai jengkel.
“Aku sarankan sebaiknya Khalid
diberhentikan saja sebagai panglima,” ‘Umar terus berusaha mendesakkan
pendapatnya.
“Demi Allah, aku tak akan menyarungkan
pedang yang telah dihunus Allah kepada orang-orang kafir,” jawab sang Khalifah
lugas dan tegas. ‘Umar pun tak membantah lagi meskipun ia sangat kecewa.
Pikiran Khalid terus mengembara. Lelaki yang
terbaring lemah ini nampak resah. Sejak kecil ia memang sering tak akur dengan
sepupunya yang kidal itu, ‘Umar bin Khaththab. Keduanya memiliki postur tubuh
dan wajah yang nyaris sama. Umur mereka pun sebaya. ‘Umar sedikit lebih tinggi.
Mereka juga sama-sama menyukai olah raga gulat. Suatu saat, keduanya terlibat
adu gulat yang seru. Khalid menang dan bahkan mematahkan tulang betis ‘Umar.
Semuanya itu hanyalah olah raga dan kesenangan. Persahabatan mereka berjalan
terus hingga dewasa.
Maka berkecamuklah Perang Yarmuk. Pertempuran
berlangsung sangat sengit. Sang Pedang Allah beserta pasukannya sudah hampir
meraih kemenangan. Tiba-tiba datanglah surat dari Madinah kepada Abu Ubaidah
ibnul Jarrah, salah seorang komandan pasukan Islam. Isinya adalah berita duka
wafatnya Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq dan dibaiatnya ‘Umar bin Khaththab sebagai
penggantinya. Selain itu, juga berisi perintah pemberhentian Khalid bin Walid
sebagai panglima besar. Sebagai penggantinya, Khalifah ‘Umar al-Faruq
mengangkat Abu Ubaidah sebagai panglima yang baru.
Abu Ubaidah sengaja merahasiakan surat
itu. Alasannya, kemenangan pasukan kaum muslimin atas bala tentara Romawi harus
dipastikan lebih dahulu. Diam-diam ia sebenarnya mengagumi Khalid, tetapi ia juga
menghormati Khalifah ‘Umar al-Faruq. Ia merasa kebingungan menentukan sikap.
Setelah perang usai, barulah ia sampaikan surat itu kepada Khalid. Setelah
membaca surat itu, Khalid berkata, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu
Ubaidah.”
“Mengapa engkau tidak segera mengabariku
tentang surat ini?”
“Aku tidak mau mengganggu konsentrasimu
dalam berperang. Kita sama-sama mengetahui bahwa bukan kekuasaan dunia yang
kita inginkan. Sungguh, bukan karena dunia kita beramal. Kita semua ini
bersaudara fi sabilillah,” Abu
Ubaidah menjelaskan alasannya.
“Sungguh luhur budimu, wahai Abu Ubaidah.
Rasulullah sendiri telah mempunyai firasat tentang semua kebaikanmu. Engkau
memang sangat pantas mendapat gelar “Kepercayaan Umat”. Semoga Allah
memberkatimu, wahai orang yang tepercaya.”
Khalid merasakan adanya ketidakadilan
dengan keputusan itu. Namun, ia tetap menunjukkan kebesaran jiwanya. Kebesaran
jiwa yang memang layak dimiliki oleh seorang besar seperti dirinya. Meskipun
sudah dicopot dari jabatannya sebagai panglima, Khalid masih terus berjihad
dalam banyak peperangan. Dia tetap berdisiplin tinggi dan tunduk patuh kepada
Amirul Mukminin ‘Umar al-Faruq. Baginya sama saja, jadi panglima atau prajurit
biasa. Semangat jihadnya terus berkobar-kobar.
Abu Ubaidah tetap mempercayakan pasukan
berkuda di bawah pimpinan Khalid. Ia juga menjadikan sang Pedang Allah sebagai
penasihat militer. Ini juga sesuai dengan arahan Khalifah ‘Umar al-Faruq.
Ketika ada yang bertanya alasan pemecatan Khalid, ‘Umar menjelaskan, “Aku tidak
memecat Khalid bin Walid karena kebencian atau khianat. Tetapi, kulihat semua
orang sangat terkagum-kagum kepadanya. Sungguh, aku khawatir orang-orang hanya
percaya akan kehebatannya. Maka, aku ingin mereka sadar bahwa Allahlah yang mengaruniakan
semua kemenangan ini. Aku khawatir
mereka akan tertimpa fitnah.”
Khalid bin Walid sampai pada puncak karirnya.
Ia termasyhur dan dicintai oleh anak buahnya. Bagi kaum muslimin dia adalah
seorang pahlawan nasional, publik mengenalnya sebagai al-Amir as-Saifullah, sang Penghulu Pedang Allah. Ketenarannya
sebagai panglima perang yang tak terkalahkan itulah yang membuat Khalifah ‘Umar
risau. Ia berkata kepada Khalid, “Apa yang telah engkau lakukan, tak ada
seorang pun yang mampu melakukannya. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalahnya
adalah pada hakikatnya Allahlah yang melakukan semua itu!”
Sekarang, lihatlah pahlawan Islam ini!
Pahlawan yang telah meruntuhkan dua adidaya dunia, Romawi dan Persia. Tubuhmya
terkulai lunglai. Dengan kecewa ia berkata terbata-bata, “Aku telah ikut serta lebih
dari seratus pertempuran di mana-mana. Tak ada sejengkal pun dari tubuhku yang
tak terkena tusukan tombak, tebasan pedang, atau tancapan anak panah.” Sungguh
menakjubkan, luka sebanyak itu tidak mampu membunuh Khalid!
Memahami keluhan sahabatnya yang nampak
begitu menyesal, Qais bin Sa’ad berusaha menghibur. Air mata Khalid tak
terbendung lagi, “Mengapa aku tidak mati syahid di medan laga saja? Apa yang
menghalangiku?”
Qais mendekat lalu berkata lembut, “Hal ini
memang sudah menjadi takdirmu. Rasulullah menggelarimu Sayfullah, Pedang Allah. Beliau tentu mengetahui bahwa pedang itu
tak mungkin patah dalam peperangan. Sebab, jika pemiliknya sampai terbunuh di
tangan musuh, itu berarti pedang-Nya patah. Itu tak akan Allah biarkan
terjadi.”
“Dan saat ini, tak ada satu amal pun yang
lebih kudambakan kecuali ucapan la ilaha
illallah,” begitu kata Khalid. Jadi, tidakkah Khalid mati dalam keadaan
syahid? Nabi S. a. w. pernah bersabda, “Barangsiapa yang sungguh-sungguh
memohon agar dikaruniai mati syahid, maka ia akan mendapatkan pahala seperti
seorang syuhada, sekalipun ia mati di atas tempat tidur.”
Tentang Abu Bakar dan ‘Umar, Khalid sempat
mengucapkan, "Segala puji bagi Allah yang telah menetapkan kematian atas
Abu Bakar. Dia lebih menyukaiku dibanding ‘Umar. Segala puji bagi Allah yang
telah mengaruniakan kekuasaan kepada ‘Umar yang kurang menyukaiku dibanding Abu
Bakar, dan memaksaku untuk menyukainya." Meski hubungannya dengan ‘Umar
sempat menegang, namun kepemimpinan ‘Umar yang luar biasa, tak urung membuat
Khalid mengaguminya.
Tatkala mengetahui kematian Khalid, ‘Umar
menangis sejadi-jadinya. Belakangan diketahui bahwa ia menangis bukan hanya
karena merasa kehilangan semata. Tetapi, ternyata sudah agak lama ia sangat
ingin mengangkat Khalid kembali menjadi panglima besar. Dan keinginannya itu
tak mungkin diwujudkan lagi. Ia pun mengakui bahwa Abu Bakar lebih mengenal
orang-orangnya daripada dirinya.
“Inilah aku, yang akan mati hanya di
tempat tidur layaknya seekor unta tua. Sungguh, tak dapat terpejam mata para
pengecut!” Begitulah kata-kata terakhir sang Pedang Allah. Di kamar itu,
berkumpullah keluarga dan para sahabat mengelilinginya. Air mata membasahi
pipi-pipi mereka. Tak ada seorang pun yang tidak mendoakan kebaikan untuknya.
Para wanita menangisinya. Betapa tidak? Mereka benar-benar kehilangan
seorang lelaki jantan sejati yang sangat
sulit dicari bandingannya.
‘Umar al-Faruq dikenal sangat keras dan
tegas. Ketika diminta menenangkan para wanita itu, ia hanya berucap, “Tidak
apa-apa mereka menangisinya, asalkan tidak berlebihan.” Di tengah suasana
berkabung, terdengar seorang wanita mendendangkan sebuah syair.
Jutaan manusia tak mampu mengungguli
keutamaanmu.
Mereka gagah perkasa namun tunduk di ujung pedangmu.
Engkau pemberani melebihi singa betina.
Yang tengah mengamuk melindungi anak-anaknya.
Engkau lebih dahsyat daripada air bah.
Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah.
Mereka gagah perkasa namun tunduk di ujung pedangmu.
Engkau pemberani melebihi singa betina.
Yang tengah mengamuk melindungi anak-anaknya.
Engkau lebih dahsyat daripada air bah.
Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah.
Mendengar itu, Khalifah ‘Umar al-Faruq pun
makin bertambah duka dan terharu. Air matanya semakin deras mengalir berderai.
“Benar ucapannya itu. Demi Allah, memang sungguh-sungguh demikian,” ia
menegaskan kesaksiannya. Ia bertanya kepada seseorang, “Siapakah wanita itu?”
“Dia adalah Lubabah ash-Shughra, biasa
dipanggil Ummu al-Fadhl. Dia adalah ibu dari Khalid bin Walid,” orang itu
menerangkan. Maka, Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab mengucapkan kata-katanya
yang terkenal, “Tak akan ada seorang wanita pun yang sanggup melahirkan lagi
laki-laki sekelas Khalid bin Walid.”
Apakah Khalid meninggalkan sekadar harta
benda? Lalu, kepada siapa ia mewasiatkannya? Ya, ia hanya meninggalkan kuda
perang dan pedangnya. Dan ini diwasiatkannya kepada ‘Umar al-Faruq sendiri.
Sebuah bukti keikhlasan hubungan persaudaraan antara Khalid dan ‘Umar.
Inna
lillahi wa inna ilayhi raji’un. Semoga husnul
khatimah. Allah meridaimu. Dalam melepas kepergian sang syahid agung ini,
marilah kita ulang-ulangi kata-kata dan doa indah ‘Umar ibnul Khaththab.
“Rahmat
Allah bagi Abu Sulaiman.
Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada apa yang ada di dunia.
Ia hidup terpuji dan berbahagia setelah mati.”
Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada apa yang ada di dunia.
Ia hidup terpuji dan berbahagia setelah mati.”
*****
T A M A T *****
Sleman,
8 Rajab 1439 H/25 Maret 2018 M
Pukul 00.30 dini hari
Pukul 00.30 dini hari