IBUMU
IBU INDONESIA PALSU
Pencerah bagi yang Tersesat
Pencerah bagi yang Tersesat
Kutak tahu, atas dasar apa kautulis,
“Aku taktahu syariat Islam”
Ketulusan, ketidakpedulian, keangkuhan, atau kebodohan?
Bersih dan luruskan dahulu niatmu
Pilih dan pedulilah akan hal-hal besar dan mendasar
Buka pandangan agar mampu melihat langit yang begitu tinggi dan luas
Bila karena kebodohan, maukah kaubelajar dari dasar?
Mumpung masih ada waktu untuk menuntut ilmu dan bertobat
Sebelum segalanya menjadi terlambat
Ketika kematian kian dekat dan akhirnya jadi penghambat
“Aku taktahu syariat Islam”
Ketulusan, ketidakpedulian, keangkuhan, atau kebodohan?
Bersih dan luruskan dahulu niatmu
Pilih dan pedulilah akan hal-hal besar dan mendasar
Buka pandangan agar mampu melihat langit yang begitu tinggi dan luas
Bila karena kebodohan, maukah kaubelajar dari dasar?
Mumpung masih ada waktu untuk menuntut ilmu dan bertobat
Sebelum segalanya menjadi terlambat
Ketika kematian kian dekat dan akhirnya jadi penghambat
Cukupkah sekadar tahu bahwa sari konde ibumu itu
sangat indah,
sembari merendahkan cadar ibu orang lain
Mengira gerai tekukan rambutnya suci,
sesuci kain pembungkus wujud ibu orang lain.
Menganggap rasa cipta ibumu sangatlah beraneka
dan menyatu dengan kodrat alam
Karena jari-jemarinya berbau getah hutan,
serta peluhnya tersentuh angin laut
Cukupkah?
sembari merendahkan cadar ibu orang lain
Mengira gerai tekukan rambutnya suci,
sesuci kain pembungkus wujud ibu orang lain.
Menganggap rasa cipta ibumu sangatlah beraneka
dan menyatu dengan kodrat alam
Karena jari-jemarinya berbau getah hutan,
serta peluhnya tersentuh angin laut
Cukupkah?
Bila jawabmu adalah “cukup”, maka ternyata
begitu sempit dan dangkalnya wawasanmu
Ibarat melihat onggokan tanah,
kauberkata, “Besar dan tinggi sekali gunung ini!”
Saat menemukan genangan air,
kauberteriak, “Alangkah luasnya samudera ini!”
begitu sempit dan dangkalnya wawasanmu
Ibarat melihat onggokan tanah,
kauberkata, “Besar dan tinggi sekali gunung ini!”
Saat menemukan genangan air,
kauberteriak, “Alangkah luasnya samudera ini!”
Kaumeminta, “Lihatlah ibu Indonesia”
(padahal itu hanyalah ibu khayalanmu semata,
hasil dari imajinasi kosong dan mimpi siang bolong)
Lalu, menuduh penglihatan orang lain semakin asing
Sok mengingatkan tentang kecantikan asli suku bangsamu sendiri
Sok menasihati bagaimana menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Kaunyatakan (dengan kebanggaan semu dan berita palsu),
“Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia”
(padahal itu hanyalah ibu khayalanmu semata,
hasil dari imajinasi kosong dan mimpi siang bolong)
Lalu, menuduh penglihatan orang lain semakin asing
Sok mengingatkan tentang kecantikan asli suku bangsamu sendiri
Sok menasihati bagaimana menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Kaunyatakan (dengan kebanggaan semu dan berita palsu),
“Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia”
“Aku taktahu syariat Islam” sekali lagi kautulis sendiri
Terasa takpeduli, angkuh, dan takmau tahu.
Yang kautahu hanyalah bahwa suara kidung ibumu sangatlah elok
Menurutmu, lebih merdu dari alunan azan
Gemulai gerak tarinya, menurutmu, adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Ilahi
Dan, sekali lagi menurutmu, nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat-ayat alam surgawi
Begitulah celotehmu, melukiskan pengapnya alam khayal dan mimpimu
Terasa takpeduli, angkuh, dan takmau tahu.
Yang kautahu hanyalah bahwa suara kidung ibumu sangatlah elok
Menurutmu, lebih merdu dari alunan azan
Gemulai gerak tarinya, menurutmu, adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Ilahi
Dan, sekali lagi menurutmu, nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat-ayat alam surgawi
Begitulah celotehmu, melukiskan pengapnya alam khayal dan mimpimu
Justru, di saat pandanganmu sendiri kian pudar dan buyar
Kautertidur dan bermimpi hampa tentang kemolekan sejati suku bangsamu
Konon sejak dahulu kala, suku bangsamu yang beradab
cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya
Kautertidur dan bermimpi hampa tentang kemolekan sejati suku bangsamu
Konon sejak dahulu kala, suku bangsamu yang beradab
cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya
Ibumu itu ibu Indonesia palsu
Yang mungkin hanya cocok untuk suku bangsa Jawa
Sedangkan Indonesia adalah bangsa yang besar
Persatuan dan kesatuan ratusan suku bangsa dari Aceh hingga Irian Jaya
Bhinneka tunggal ika dari ratusan budaya dan kearifan lokal
Dari itu semua, barulah muncul keindahan hakiki bianglala nusantara
Yang mungkin hanya cocok untuk suku bangsa Jawa
Sedangkan Indonesia adalah bangsa yang besar
Persatuan dan kesatuan ratusan suku bangsa dari Aceh hingga Irian Jaya
Bhinneka tunggal ika dari ratusan budaya dan kearifan lokal
Dari itu semua, barulah muncul keindahan hakiki bianglala nusantara
Kautak tahu syariat
Tetapi yang jauh lebih menyedihkan adalah kautaktahu Indonesia
Kautakpaham bahwa sejak zaman purba, nenek moyang kita begitu arif bijaksana
Selalu memadukan agama dan budaya begitu harmonisnya
Yang di era kekinian, tiba-tiba saja, justru kaupertentangkan
Tetapi yang jauh lebih menyedihkan adalah kautaktahu Indonesia
Kautakpaham bahwa sejak zaman purba, nenek moyang kita begitu arif bijaksana
Selalu memadukan agama dan budaya begitu harmonisnya
Yang di era kekinian, tiba-tiba saja, justru kaupertentangkan
Ibu Indonesia adalah Ibu Bhinneka Tunggal Ika
Pengejawantahan dari nilai-nilai Pancasila
Mampu membedakan antara wahyu Ilahi dan budaya manusiawi
Namun penuh semangat toleransi dan harmonisasi
Pengejawantahan dari nilai-nilai Pancasila
Mampu membedakan antara wahyu Ilahi dan budaya manusiawi
Namun penuh semangat toleransi dan harmonisasi
Apa yang mungkin diharapkan dari seorang Sukmawati?
Tidak ada sama sekali!
Syariat tidak mengerti
Budaya pun tak memahami
Tidak ada sama sekali!
Syariat tidak mengerti
Budaya pun tak memahami
Sleman,
Selasa, 10 April 2018 M/24 Rajab 1439 H, 13.12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar