Jumat, 13 April 2018

Cerpen tentang Sahabat Khalid bin Walid r.a.


SAAT-SAAT TERAKHIR
SANG PEDANG ALLAH

     Di Homs. Ya, di Homs, di Suriah. Tepatnya di sebuah rumah yang cukup sederhana. Lelaki itu tergeletak tak berdaya di atas tempat tidurnya. Tubuhnya nampak lemah tak bertenaga. Tapi kedua matanya masih menyimpan api semangat yang tetap membara. Sorot matanya sangat tajam. Ia terus menatap ke atas, ke arah langit-langit rumahnya. Lelaki dengan postur tubuh tinggi, kekar, dan berotot. Kulitnya putih kemerah-merahan. Wajahnya berwibawa dengan janggut yang lebat. Dia bukan sembarang lelaki. Dialah Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat utama Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.
     “Ah, haruskah aku mati hanya dalam keadaan seperti ini?,” keluhnya dengan kesal. “Sejak aku masih remaja, duniaku adalah perang, perang, dan perang. Setiap tarikan napas, denyut jantung, dan aliran darahku adalah untuk perang,” pikirannya mulai menerawang. Tiba-tiba saja ingatannya tertuju kepada masa silam di saat ia belum masuk Islam. Terbayang betapa banyak dosa yang telah dilakukannya. Ia adalah salah seorang pemuka Quraisy yang menindas dan menganiaya kaum muslimin dengan kejamnya.
     Teringat ia bagaimana sepak terjangnya dalam Perang Uhud. Pasukan Quraisy, yang mana Khalid menjadi komandan kavaleri, berjumlah tiga ribu prajurit. Sedangkan kaum muslimin, langsung di bawah pimpinan Nabi S. a. w., hanya berkekuatan tujuh ratus orang. Sungguh, kemenangan sudah berada di pihak tentara Islam. Pasukan musyrikin menjadi kacau balau dan lari tunggang langgang. Banyaknya prajurit dari pihak Quraisy terbukti tidak sanggup menolong untuk meraih kemenangan.
     Dalam keadaan kritis itu, Khalid bin Walid memandang ke arah lereng-lereng bukit. Ia menyaksikan puluhan anggota regu pemanah meninggalkan tempatnya. Mereka turun untuk ikut mengambil barang rampasan perang yang berjatuhan dari pasukan musyrikin. “Nah, ini peluang bagus. Bagian belakang pasukan muslimin sudah tidak dijaga lagi kecuali beberapa orang saja. Ini saat yang tepat untuk menghancurkan mereka,” gumamnya penuh harapan. Maka menyerbulah Khalid bersama pasukan berkudanya tanpa dapat dibendung lagi.
     Serangan gencar pasukan Khalid dari arah belakang itu membalikkan keadaan. Kaum muslimin yang sedang sibuk memunguti harta rampasan perang menjadi kocar-kacir. Gugur dalam perang ini, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, “Singa Allah dan Singa Rasul-Nya”. Beliau adalah paman tercinta Rasulullah S. a. w. Bahkan, Nabi sendiri menderita luka yang cukup serius. Sempat beredar isu bahwa beliau telah terbunuh.
     Penyesalan tampak di wajah Khalid yang kini tergeletak di atas pembaringannya. Namun kemudian ia tersenyum saat teringat akan salah satu hari kebahagiaannya. Ia pernah bercerita, “Allah membukakan hatiku untuk Islam. Aku sudah memutuskan untuk masuk Islam dan menemui Nabi S. a. w. di Madinah. Aku perlu seseorang yang mau menemaniku. Bertemulah aku dengan ‘Utsman bin Thalhah dan aku sampaikan maksudku kepadanya. Ternyata ia setuju. Ketika sampai di sebuah dataran tinggi, kami bertemu dengan ‘Amr bin ‘Ash.
     “Hendak ke manakah, tuan-tuan ini?”
     “Kami hendak ke Madinah menemui Muhammad untuk masuk Islam”
     ‘Amr bin ‘Ash rupanya juga punya niat yang sama. Maka, berangkatlah mereka bertiga dan sampai di Madinah pada awal bulan Safar tahun kedelapan Hijriyah.
     Di depan Rasulullah S. a. w., Khalid menyampaikan salam kenabian. Nabi membalas salam itu dengan wajah cerah. Khalid segera bersyahadat.
     “Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kepadamu. Sungguh aku telah mengetahui bahwa engkau seorang yang cerdas. Dan aku berharap, kecerdasan itu hanya akan menuntunmu kepada jalan kebaikan,” sabda Nabi sambil tersenyum.
     “Mohon kiranya engkau mohonkan ampun untukku atas semua tindakan masa laluku yang menghalangi jalan Allah,” Khalid meminta dengan wajah mengiba.
     “Sesungguhnya keislaman itu telah menghapuskan segala perbuatan yang lalu,” jawab Nabi singkat. Namun Khalid tetap mendesak beliau agar berkenan mendoakannya.
     “Ya Allah, aku mohon kiranya Engkau ampuni dosa Khalid ibnul Walid karena tindakannya menghalangi jalan-Mu di masa lalu,” Nabi berdoa dengan penuh kesungguhan.
     Kenangan yang indah itu disusul dengan kenangan indah berikutnya. Tibalah kaum muslimin harus bertempur melawan pasukan Romawi di Muktah. Pasukan muslimin kurang dari tiga ribu orang berhadapan dengan seratus lima puluh ribu orang lawannya. Khalid baru saja masuk Islam sehingga ia tidak wajib ikut dalam peperangan ini. Tetapi sebagai kesatria yang “berdarah perang”, tentu ia tak mungkin tinggal diam.
     Satu per satu dari ketiga panglima perang yang ditunjuk Nabi, gugur di medan laga. Tsabit bin Arqam segera mengambil panji perang dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
     “Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!” teriak Tsabit kepada Khalid bin Walid.
     Khalid hanyalah seorang prajurit biasa. Lagi pula, ia baru saja masuk Islam. Dengan rendah hati, ia menjawab, “Tidak... jangan saya. Andalah yang lebih berhak memegangnya. Anda lebih berusia dan telah menyertai Perang Badar.”
     “Ambillah, sebab Anda lebih tahu siasat perang daripada saya. Dan demi Allah, saya tak akan mengambilnya kecuali untuk saya serahkan kepada Anda!” tegas Tsabit. Kemudian ia berseru kepada seluruh anggota pasukan, “Bersediakah kalian di bawah pimpinan Khalid?”. Mereka serempak menjawab, “Setuju!”.
     Perbandingan jumlah personil, peralatan, dan pengalaman antara kedua pasukan, jelas jauh dari seimbang. Tak ada taktik perang yang bagaimana pun yang mampu merubah kekalahan menjadi kemenangan. Satu-satunya yang masih mungkin dilakukan hanyalah menghindarkan pasukan Islam ini dari kemusnahan total. Perlu diingat, pengunduran diri semacam ini pun nampaknya termasuk hal yang mustahil. Tapi adakah sesuatu yang mustahil bagi hati yang berani? Maka, siapa pula orang yang lebih pemberani dibanding Khalid? Siapakah yang lebih hebat kepahlawanannya? Dan siapa yang lebih tajam pandangannya daripada dia?
     Di sinilah, Khalid bin Walid mempertunjukkan kepahlawanan dan kejeniusannya sebagai panglima. Dan dikarenakan Perang Muktah inilah, Rasulullah S. a. w. menggelarinya Sayfullah al-Maslul, Pedang Allah yang Senantiasa Terhunus. Nabi pernah bersabda, “Khalid bin Walid itu sebilah pedang dari sekian pedang Allah yang dihunuskan kepada orang-orang kafir dan munafik.”
     Ingatan Khalid terus melayang ke beberapa puluh tahun yang lalu. Yaitu, saat Nabi beserta sepuluh ribu pasukan muslimin membebaskan kota Mekah. Untuk bagian sayap kanan pasukan, Rasulullah S. a. w. mengangkat Khalid sebagai pimpinannya. Gemuruh suara tahlil, dan takbir, bercampur suara ringkikan kuda-kuda. Alangkah bahagia dan terharunya hati Khalid. Kali ini, ia memasuki Mekah sebagai salah seorang pemimpin pasukan umat Islam. Ia bukan tergolong mereka yang masuk Islam karena terpaksa, sekadar terbawa-bawa oleh kemenangan ini.
     Khalid juga tidak lupa, setelah itu Rasulullah S. a. w. mengutusnya untuk berdakwah, bukan berperang. Ketika ia menjumpai Bani Jadzimah, mereka berkata, “Kami telah keluar dari agama! Kami telah keluar dari agama!” Mendengar kata-kata ini, Khalid memerintahkan pasukannya membunuh sebagian mereka. Sisanya ditawan. Tetapi kemudian ia juga membunuh tawanan tersebut. Khalid merasa telah terjadi kesalahpahaman. Peristiwa ini lalu dilaporkan kepada Nabi.
     “Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang telah dilakukan Khalid ibnul Walid,” begitu doa Nabi dengan rasa sedih bercampur marah. Inilah insiden yang mungkin menyebabkan hubungan persahabatannya dengan ‘Umar bin Khaththab mulai renggang. ‘Umar berpendapat bahwa Khalid terlalu cepat menggunakan pedangnya. Ia khawatir akan banyak korban berjatuhan di tangan saudara sepupunya itu. Padahal, bisa jadi ini karena Khalid kurang memahami ucapan “Kami telah keluar dari agama”. Ia menangkap kalimat itu sebagai, “Kami telah murtad dari Islam”.
     Meskipun begitu, Rasulullah S. a. w. tidak pernah memecat Khalid bin Walid sebagai panglima. Demikian pula, setelah Nabi wafat, dan Abu Bakar ash-Shiddiq menggantikan beliau sebagai khalifah. Sang Pedang Allah tetap menduduki jabatannya sebagai panglima besar pasukan Islam. Kemenangan demi kemenangan, keajaiban demi keajaiban, terjadi berkat prestasi luar biasa dari Abu Sulaiman. Nama beserta gelarnya menyebar dengan cepatnya ke seantero bumi.
     Suatu saat, Georgius, seorang panglima Romawi, pernah mengundangnya. Ketika peperangan tengah berhenti, Khalid pun memenuhi undangan itu. Setelah saling berhadapan muka, panglima Romawi itu segera membuka percakapan, “Tuan Khalid, jujurlah Anda kepada saya. Jangan berbohong, sebab orang merdeka tak akan berbohong!
     “Apakah Allah,” sambungnya tak sabar “telah menurunkan sebilah pedang kepada Nabi Anda dari langit. Lalu, pedang itu diberikannya kepada Anda sehingga setiap Anda hunuskan kepada siapa pun, pedang itu pasti membinasakannya?!”
     “Astaghfirullah!”, gumam Khalid dalam hati. Setelah menghela napas sejenak, ia menjawab tanpa kesombongan sedikit pun , “Oh, tidak!”
     “Mengapa Anda dinamai Pedang Allah?”, panglima Romawi itu terus mendesak karena merasa penasaran.
     “Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kami. Dahulunya, saya termasuk orang yang mendustakan beliau. Akhirnya Allah membukakan hati saya sehingga menerima Islam, agama yang beliau bawa. Saya berjanji setia kepada beliau. Lalu, beliau bersabda kepada saya, ‘Engkau adalah Pedang Allah di antara sekian pedang-pedang-Nya.’ Demikianlah, maka saya diberi nama Pedang Allah.”
     Rupanya si panglima itu makin penasaran terhadap Islam. Ia banyak bertanya jawab dengan Khalid. Sebelum menutup pembicaraan, Georgius meminta dengan sungguh-sungguh, “Ajarkanlah Islam itu kepada saya, wahai Tuan Khalid!”. Maka, masuk Islamlah dia. Georgius sempat mengerjakan salat dua rakaat, satu-satunya salat yang mampu ditegakkannya. Panglima ini berbalik haluan. Ia berperang di pihak kaum muslimin hingga gugur sebagai syuhada.
     Pada kesempatan lain, Khalid memasuki Nejd, wilayah perkampungan Bani Tamim. Banyak dari anggota suku itu yang bergegas menyatakan tunduk kepada kekuasaan kekhalifahan. Tetapi, suku Bani Yarbu, di bawah pimpinan Malik bin Nuwayrah, menolak untuk menyerah. Ia malah melarikan diri melintasi padang pasir. Namun, ia tertangkap lalu dihadapkan kepada Khalid. Dari keterangannya, Khalid menyimpulkan bahwa Malik telah murtad dan memberontak. Khalid memerintahkan seorang anggota pasukannya untuk membunuh Malik. Setelah kematiannya, pada malam harinya, Khalid menikahi mantan istri Malik, Layla binti Minhal. Dia adalah seorang wanita yang sangat cantik.
     ‘Umar bin Khaththab sangat gusar mengetahui kejadian itu. Ia menghadap Abu Bakar dan mengusulkan pemecatannya, “Sesungguhnya pada pedang Khalid itu ada rohaq-nya.” Rohaq adalah sesuatu yang identik dengan “kelancangan, ketergesaan”, dan “ketajaman”. ‘Umar tidak menyatakan bahwa Khalid itu lancang dan tergesa-gesa. Ia hanya mengatakan bahwa pedang Khalid itulah yang “terlalu cepat”, bukan pribadi pemilik pedangnya. Ini bukan hanya mengungkapkan adab kesopanan, tetapi bahwa ‘Umar tetap berprasangka baik.
     “Hai ‘Umar, dia telah berusaha menimbang tapi keputusannya salah. Jangan berkata yang bukan-bukan tentang Khalid,” sergah Khalifah Abu Bakar yang mulai jengkel.
     “Aku sarankan sebaiknya Khalid diberhentikan saja sebagai panglima,” ‘Umar terus berusaha mendesakkan pendapatnya.
     “Demi Allah, aku tak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah kepada orang-orang kafir,” jawab sang Khalifah lugas dan tegas. ‘Umar pun tak membantah lagi meskipun ia sangat kecewa.
     Pikiran Khalid terus mengembara. Lelaki yang terbaring lemah ini nampak resah. Sejak kecil ia memang sering tak akur dengan sepupunya yang kidal itu, ‘Umar bin Khaththab. Keduanya memiliki postur tubuh dan wajah yang nyaris sama. Umur mereka pun sebaya. ‘Umar sedikit lebih tinggi. Mereka juga sama-sama menyukai olah raga gulat. Suatu saat, keduanya terlibat adu gulat yang seru. Khalid menang dan bahkan mematahkan tulang betis ‘Umar. Semuanya itu hanyalah olah raga dan kesenangan. Persahabatan mereka berjalan terus hingga dewasa.
     Maka berkecamuklah Perang Yarmuk. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Sang Pedang Allah beserta pasukannya sudah hampir meraih kemenangan. Tiba-tiba datanglah surat dari Madinah kepada Abu Ubaidah ibnul Jarrah, salah seorang komandan pasukan Islam. Isinya adalah berita duka wafatnya Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq dan dibaiatnya ‘Umar bin Khaththab sebagai penggantinya. Selain itu, juga berisi perintah pemberhentian Khalid bin Walid sebagai panglima besar. Sebagai penggantinya, Khalifah ‘Umar al-Faruq mengangkat Abu Ubaidah sebagai panglima yang baru.
     Abu Ubaidah sengaja merahasiakan surat itu. Alasannya, kemenangan pasukan kaum muslimin atas bala tentara Romawi harus dipastikan lebih dahulu. Diam-diam ia sebenarnya mengagumi Khalid, tetapi ia juga menghormati Khalifah ‘Umar al-Faruq. Ia merasa kebingungan menentukan sikap. Setelah perang usai, barulah ia sampaikan surat itu kepada Khalid. Setelah membaca surat itu, Khalid berkata, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Ubaidah.”
     “Mengapa engkau tidak segera mengabariku tentang surat ini?”
     “Aku tidak mau mengganggu konsentrasimu dalam berperang. Kita sama-sama mengetahui bahwa bukan kekuasaan dunia yang kita inginkan. Sungguh, bukan karena dunia kita beramal. Kita semua ini bersaudara fi sabilillah,” Abu Ubaidah menjelaskan alasannya.
     “Sungguh luhur budimu, wahai Abu Ubaidah. Rasulullah sendiri telah mempunyai firasat tentang semua kebaikanmu. Engkau memang sangat pantas mendapat gelar “Kepercayaan Umat”. Semoga Allah memberkatimu, wahai orang yang tepercaya.”
     Khalid merasakan adanya ketidakadilan dengan keputusan itu. Namun, ia tetap menunjukkan kebesaran jiwanya. Kebesaran jiwa yang memang layak dimiliki oleh seorang besar seperti dirinya. Meskipun sudah dicopot dari jabatannya sebagai panglima, Khalid masih terus berjihad dalam banyak peperangan. Dia tetap berdisiplin tinggi dan tunduk patuh kepada Amirul Mukminin ‘Umar al-Faruq. Baginya sama saja, jadi panglima atau prajurit biasa. Semangat jihadnya terus berkobar-kobar.
     Abu Ubaidah tetap mempercayakan pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid. Ia juga menjadikan sang Pedang Allah sebagai penasihat militer. Ini juga sesuai dengan arahan Khalifah ‘Umar al-Faruq. Ketika ada yang bertanya alasan pemecatan Khalid, ‘Umar menjelaskan, “Aku tidak memecat Khalid bin Walid karena kebencian atau khianat. Tetapi, kulihat semua orang sangat terkagum-kagum kepadanya. Sungguh, aku khawatir orang-orang hanya percaya akan kehebatannya. Maka, aku ingin mereka sadar bahwa Allahlah yang mengaruniakan semua kemenangan  ini. Aku khawatir mereka akan tertimpa fitnah.”
     Khalid bin Walid sampai pada puncak karirnya. Ia termasyhur dan dicintai oleh anak buahnya. Bagi kaum muslimin dia adalah seorang pahlawan nasional, publik mengenalnya sebagai al-Amir as-Saifullah, sang Penghulu Pedang Allah. Ketenarannya sebagai panglima perang yang tak terkalahkan itulah yang membuat Khalifah ‘Umar risau. Ia berkata kepada Khalid, “Apa yang telah engkau lakukan, tak ada seorang pun yang mampu melakukannya. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah pada hakikatnya Allahlah yang melakukan semua itu!”
     Sekarang, lihatlah pahlawan Islam ini! Pahlawan yang telah meruntuhkan dua adidaya dunia, Romawi dan Persia. Tubuhmya terkulai lunglai. Dengan kecewa ia berkata terbata-bata, “Aku telah ikut serta lebih dari seratus pertempuran di mana-mana. Tak ada sejengkal pun dari tubuhku yang tak terkena tusukan tombak, tebasan pedang, atau tancapan anak panah.” Sungguh menakjubkan, luka sebanyak itu tidak mampu membunuh Khalid!    
     Memahami keluhan sahabatnya yang nampak begitu menyesal, Qais bin Sa’ad berusaha menghibur. Air mata Khalid tak terbendung lagi, “Mengapa aku tidak mati syahid di medan laga saja? Apa yang menghalangiku?”
    Qais mendekat lalu berkata lembut, “Hal ini memang sudah menjadi takdirmu. Rasulullah menggelarimu Sayfullah, Pedang Allah. Beliau tentu mengetahui bahwa pedang itu tak mungkin patah dalam peperangan. Sebab, jika pemiliknya sampai terbunuh di tangan musuh, itu berarti pedang-Nya patah. Itu tak akan Allah biarkan terjadi.”
     “Dan saat ini, tak ada satu amal pun yang lebih kudambakan kecuali ucapan la ilaha illallah,” begitu kata Khalid. Jadi, tidakkah Khalid mati dalam keadaan syahid? Nabi S. a. w. pernah bersabda, “Barangsiapa yang sungguh-sungguh memohon agar dikaruniai mati syahid, maka ia akan mendapatkan pahala seperti seorang syuhada, sekalipun ia mati di atas tempat tidur.”
     Tentang Abu Bakar dan ‘Umar, Khalid sempat mengucapkan, "Segala puji bagi Allah yang telah menetapkan kematian atas Abu Bakar. Dia lebih menyukaiku dibanding ‘Umar. Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kekuasaan kepada ‘Umar yang kurang menyukaiku dibanding Abu Bakar, dan memaksaku untuk menyukainya." Meski hubungannya dengan ‘Umar sempat menegang, namun kepemimpinan ‘Umar yang luar biasa, tak urung membuat Khalid mengaguminya.
     Tatkala mengetahui kematian Khalid, ‘Umar menangis sejadi-jadinya. Belakangan diketahui bahwa ia menangis bukan hanya karena merasa kehilangan semata. Tetapi, ternyata sudah agak lama ia sangat ingin mengangkat Khalid kembali menjadi panglima besar. Dan keinginannya itu tak mungkin diwujudkan lagi. Ia pun mengakui bahwa Abu Bakar lebih mengenal orang-orangnya daripada dirinya.
     “Inilah aku, yang akan mati hanya di tempat tidur layaknya seekor unta tua. Sungguh, tak dapat terpejam mata para pengecut!” Begitulah kata-kata terakhir sang Pedang Allah. Di kamar itu, berkumpullah keluarga dan para sahabat mengelilinginya. Air mata membasahi pipi-pipi mereka. Tak ada seorang pun yang tidak mendoakan kebaikan untuknya. Para wanita menangisinya. Betapa tidak? Mereka benar-benar kehilangan seorang  lelaki jantan sejati yang sangat sulit dicari bandingannya.
     ‘Umar al-Faruq dikenal sangat keras dan tegas. Ketika diminta menenangkan para wanita itu, ia hanya berucap, “Tidak apa-apa mereka menangisinya, asalkan tidak berlebihan.” Di tengah suasana berkabung, terdengar seorang wanita mendendangkan sebuah syair.
            Jutaan manusia tak mampu mengungguli keutamaanmu.
            Mereka gagah perkasa namun tunduk di ujung pedangmu.
            Engkau pemberani melebihi singa betina.
            Yang tengah mengamuk melindungi anak-anaknya.
            Engkau lebih dahsyat daripada air bah.
            Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah.
     Mendengar itu, Khalifah ‘Umar al-Faruq pun makin bertambah duka dan terharu. Air matanya semakin deras mengalir berderai. “Benar ucapannya itu. Demi Allah, memang sungguh-sungguh demikian,” ia menegaskan kesaksiannya. Ia bertanya kepada seseorang, “Siapakah wanita itu?”
     “Dia adalah Lubabah ash-Shughra, biasa dipanggil Ummu al-Fadhl. Dia adalah ibu dari Khalid bin Walid,” orang itu menerangkan. Maka, Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Tak akan ada seorang wanita pun yang sanggup melahirkan lagi laki-laki sekelas Khalid bin Walid.”
     Apakah Khalid meninggalkan sekadar harta benda? Lalu, kepada siapa ia mewasiatkannya? Ya, ia hanya meninggalkan kuda perang dan pedangnya. Dan ini diwasiatkannya kepada ‘Umar al-Faruq sendiri. Sebuah bukti keikhlasan hubungan persaudaraan antara Khalid dan ‘Umar.
     Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Semoga husnul khatimah. Allah meridaimu. Dalam melepas kepergian sang syahid agung ini, marilah kita ulang-ulangi kata-kata dan doa indah ‘Umar ibnul Khaththab.   
            “Rahmat Allah bagi Abu Sulaiman.
            Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada apa yang ada di dunia.
            Ia hidup terpuji dan berbahagia setelah mati.”

***** T A M A T  *****
Sleman, 8 Rajab 1439 H/25 Maret 2018 M
Pukul 00.30 dini hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar