AKU,
FLP, DAN DAKWAH KEPENULISAN
... Peringatkanlah
dengannya agar
setiap orang tidak terjerumus karena perbuatannya sendiri. ...
(al-Quran Surat al-An’am [6] ayat 70)
setiap orang tidak terjerumus karena perbuatannya sendiri. ...
(al-Quran Surat al-An’am [6] ayat 70)
Aku harus mulai dari mana? Tepatlah
kiranya jika kumulai dengan diriku sendiri saja. Aku akan mulai tulisan ini
dengan “aku”. Apa, siapa, dan bagaimanakah aku ini? Aku adalah seorang manusia.
Hanya salah satu dari bermiliar-miliar makhluk Allah sang Maha Pencipta.
Bahkan, aku hanyalah salah seorang dari sekian miliar manusia di bumi ini. Dan
sudah ditakdirkan bahwa aku harus menjadi salah seorang warga dari sebuah
negara tertentu.
Aku tidak tahu mengapa aku dilahirkan pada
suatu waktu tertentu. Mengapa aku keluar dari rahim ibuku pada suatu tahun
tertentu. Pada tanggal, hari, dan jam tertentu. Aku juga tidak tahu mengapa aku
harus lahir dari sepasang suami istri berkewarganegaraan Indonesia. Dan mengapa
aku berasal dari keturunan sebuah suku bangsa, suku bangsa Jawa.
Aku tidak tahu dan tidak pernah berharap.
Bahkan aku tidak pernah menginginkan agar terlahir dari sepasang suami istri
tertentu. Aku tak pernah minta dilahirkan. Dan aku pun tak pernah memilih dari
keturunan siapa aku harus dilahirkan. Aku tak pernah memilih agar dilahirkan di
sebuah kota tertentu di sebuah propinsi terentu. Kota yang dinamakan Semarang
dan masuk wilayah propinsi yang disebut Jawa Tengah. Sebuah propinsi yang
ternyata menjadi bagian dari wilayah sebuah negara tertentu. Sebuah negara yang
bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia dan biasa disingkat NKRI.
Tahu-tahu aku terlahir pada tanggal 11
bulan Agustus tahun 1960. Begitu saja. Dan, seingatku, aku hanya bisa mengingat
kembali dengan jelas baru setelah aku berusia lima tahunan. Tiba-tiba aku sudah
berada di dunia ini. Tiba-tiba aku menjadi seorang bocah kecil, anak laki-laki
kedua dari kedua orangtuaku. Tahu-tahu aku telah menjadi seorang keturunan suku
bangsa Jawa dan hidup di NKRI.
Begitu saja aku harus menghadapi kenyataan
hidup di tengah-tengah suku bangsa Jawa. Lebih jauh lagi, sebagai warga negara
Indonesia. Sebuah bangsa yang sangat beragam, heterogen. Bangsa dengan suku,
warna kulit, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Bangsa yang memiliki sejarah
panjang dan berliku-liku. Sejak kelompok manusia pertama yang menghuni
kepulauan yang dulu disebut Nusantara. Mereka telah memiliki agama,
kepercayaan, dan kebudayaan mandiri.
Bahwa bangsa di Nusantara ini pada awalnya
sudah mempercayai roh-roh dan kekuatan alam. Demikianlah, bila teori itu memang
valid. Roh-roh itu bersemayam di suatu tempat tertentu. Terutama, mereka memuja
roh-roh leluhur yang telah meninggal dan berada di alam yang lebih tinggi.
Mereka percaya bahwa roh nenek moyang itu tetap dapat melihat dan mengawasi
gerak-gerik mereka yang masih hidup. Bahkan yakin bahwa roh leluhur itu dapat menjaga
dan membantu mereka saat diperlukan.
Mereka juga percaya bahwa setiap benda di
alam ini mengandung kekuatan tertentu. Tiap benda itu seakan-akan bernyawa.
Begitulah mereka percaya bahwa di gunung, laut, pohon, batu, dan bangunan ada
“sesuatu” yang menjaganya. Mereka percaya bahwa senjata, seperti keris misalnya,
juga dihuni oleh sesuatu kekuatan tertentu. Maka, tak ayal lagi mereka sangat
menghormati bahkan hingga memuja benda-benda semacam itu.
Sejak masih duduk di Taman Kanak-kanak
(TK) hingga dewasa kini, aku masih terus menyaksikannya. Menyaksikan manusia
Indonesia, khususnya suku bangsa Jawa, tak mampu melepaskan diri dari
kepercayaan akan hal-hal yang bersifat mistis dan mitologis. Masih cukup banyak
dari mereka yang lebih berpegang teguh kepada spiritualitas kejawaannya.
Selama duduk di TK dan Sekolah Dasar (SD),
aku mulai mengenal agama Hindu melalui pewayangan. Di sekolah, aku juga mulai
mengenal Agama Kristen Protestan. Sementara kedua orang tuaku lebih berpegang
kepada budaya Jawa. Mereka menganut aliran kepercayaan Pangestu (Paguyuban
Ngesti Tunggal). Di kelas 5 SD, kalau tidak salah, oleh ibu guruku yang
beragama Kristen, pertama kali aku diperkenalkan dengan sejarah Islam. Di dalam
buku teks pelajaran sejarah, disebutkan nama pembawa agama Islam adalah Nabi
Mohammad (dengan huruf “o”).
Ketika duduk di Sekolah Menengah Pertama
(SMP), barulah aku mulai mengerti apa itu Islam. Pertama aku mengenal “Alloh”
(dengan huruf “o”), Nabi Muhammad S. a. w., al-Quran dan al-Hadits. Setelah
duduk di Sekolah Menengah Ataslah, terutama di kelas 2, barulah secara serius
aku mempelajari Islam. Awalnya, melalui buku Al-Quran dan Terjemahannya tiga jilid, terbitan Departemen Agama.
Alhamdulillah, setelah mendapatkan
pencerahan dari buku tersebut, aku benar-benar yakin telah menjadi muslim. Dari
buku itu, aku memahami bahwa ajaran Islam demikian luas, termasuk masalah
toleransi beragama. Dari buku itulah aku justru termotivasi untuk melakukan
studi atas agama-agama lain, terutama Agama Kristiani. Lengkaplah pengertianku
mengapa manusia Indonesia sungguh-sungguh heterogen.
Setelah aku menjadi muslim, lalu apa yang
harus kulakukan? Jelas, aku wajib menuntut ilmu-ilmu keislaman sampai kapanpun.
Aku wajib menjalankan ibadah-ibadah yang telah Allah tetapkan. Semuanya demi
keselamatan dan kebahagiaan diriku sendiri, juga keluargaku. Tetapi, mungkinkah
aku bersikap tak peduli dengan lingkungan sosialku? Tidakkah aku tergerak untuk
aktif mendakwahkan Dinul Islam kepada bangsaku, baik yang muslim maupun
nonmuslim?
Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara
atau metode dakwah yang tepat? Maka, selama ini yang telah kujalankan adalah
dengan tausiyah, khotbah, pengajian, diskusi, dan mengunggah status di face
book. Menjelang purnatugas dari PT Taman Wisata Candi Boroubudur, Prambanan
& Ratu Boko; aku mulai tertarik pada dunia kepenulisan. Aku segera
bergabung ke BBC (Bikin Buku Club) Yogyakarta yang diampu oleh Brili Agung. Aku
berhasil menyelesaikan bukuku yang pertama, Art
of Life, An Islamic Perspective. Sayang, hingga hari ini belum sempat
diterbitkan.
Sampai suatu saat aku berkenalan dengan
Forum Lingkar Pena (FLP). Aku belum begitu mengenal forum ini. Sepintas, yang
kutahu hanyalah bahwa organisasi ini bergerak di bidang dakwah kepenulisan
Islamiah. Mungkin, ini sudah menjadi kehendak dan rahmat Allah kepadaku. Sejak
menjelang purnatugas, aku memang ingin berkarya di bidang kepenulisan. Dua
subjek yang menjadi perhatianku adalah agama dan kebudayaan. Tentu Agama Islam
khususnya, tetapi juga agama-agama lain. Bagaimana hubungan yang tepat antara
agama dan kebudayaan, inilah yang sangat menarik bagiku!
Indonesia adalah negara yang sangat
majemuk. Sangat pluralistik. Di satu sisi, hal ini mudah memunculkan perselisihan
dan pertikaian. Tetapi, di sisi lain, dapat pula merupakan potensi yang luar
biasa bila terjadi sinergi. Penduduk negara ini sangatlah beragam dalam hal
suku, warna kulit, adat istiadat, budaya, bahasa, dan agama. Di Indonesia saat
ini, telah diakui secara resmi adanya 6 agama, yaitu Islam, Kristen Katolik,
Kristen Protestan, Hindu, Buddha, dan Khong Hu Cu. Belum Kepercayaan terhadap
Tuhan yang Mahaesa dengan berbagai alirannya.
Sebelum masuknya agama-agama besar ke nusantara,
penduduk negeri ini telah memiliki kebudayaan dan kepercayaan sendiri. Konon,
diawali dengan animisme-dinamisme, lalu masuklah agama Hindu-Buddha, Khong Hu
Cu (?), dan Islam. Kita juga mengenal adanya klenteng-kelenteng Tridarma,
gabungan tiga agama. Mereka yang beribadah di klenteng, klenteng itu menganut
gabungan agama-agama Buddha, Khong Hu Cu, dan Tao.
Keyakinan mereka, khususnya masyarakat
Jawa, terhadap budaya spiritual mereka yang asli masih kuat. Mereka mempercayai
adanya Tuhan, namun juga mempercayai hal-hal gaib dan mistis sesuai dengan
kepercayaan leluhur mereka. Melalui para wali, Agama Islam berhasil diterima
oleh mereka dengan baik. Apa rahasianya? Bukankah kebudayaan Jawa terkenal
sebagai kebudayaan adiluhung yang kuat. Kebudayaan ini tidak mudah menerima
begitu saja adanya pengaruh dari kebudayaan luar atau asing.
Di sisi lain, kebudayaan Jawa juga bersifat
elastis dan fleksibel. Ia bersedia menerima unsur-unsur budaya asing secara
terbuka dengan sejumlah persyaratan. Budaya Jawa akan melawan budaya luar bila
yang kedua ini bermaksud menundukkannya. Apalagi bila caranya dengan paksaan.
Ia hanya mau saling bertukar unsur budaya bila pengaruh asing itu memang dapat
menyatu secara harmonis dengannya.
Itulah metode yang diterapkan oleh Wali
Songo dalam menyebarkan Islam ke seluruh nusantara. Sebuah metode yang khas,
unik, efisien, dan efektif; yaitu, melalui pendekatan budaya. Mereka berjihad
untuk memadukan budaya Islam dengan budaya Jawa. Dengan demikian, terjadilah
akulturasi budaya Islam-Jawa. Perhatikan, yang berpadu adalah antara budaya
dengan budaya. Bukan antara Islam sebagai dinullah
atau agama wahyu dengan budaya Jawa!
Tetapi, bukankah semua penduduk Indonesia,
boleh dikatakan, telah beragama atau berkepercayaan tertentu? Sebagian besar
dari mereka telah memeluk agama-agama Hindu, Buddha, Kristiani, Khong Hu Cu,
bahkan agama Islam. Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk muslim
terbesar di dunia. Sekitar delapan puluh lima persen warga negaranya adalah
para pemeluk Islam. Sisanya, menjadi pemeluk kelima agama lain, serta berbagai
aliran kepercayaan terhadap Tuhan yang Mahaesa. Masih perlukah aku berdakwah?
Kita memahami bahwa Indonesia bukanlah
negara sekuler. Tetapi, kita pun menyadari bahwa Indonesia bukan pula sebuah
negara agama. Negara sekuler adalah sebuah negara yang bersikap netral terhadap
berbagai agama. Tak ada satu pun yang diistimewakan atau didiskriminasikan.
Negara sekuler memisahkan dan memilahkan antara agama dengan bidang-bidang
kehidupan lainnya. Bidang-bidang itu misalnya sosial, ekonomi, politik,
militer, hukum, seni budaya dan sebagainya. Agama tidak boleh ikut campur ke
dalam bidang-bidang tersebut.
Sebaliknya, negara agama adalah negara
yang berdasarkan sebuah agama tertentu. Seluruh bidang kehidupan di negara ini
diatur oleh agama. Sebagai contoh misalnya Negara Islam. Segala aspek kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegaranya tentu diatur berdasarkan al-Quran
dan as-Sunnah. Sistem sosial-politiknya berbentuk khilafah (kekhalifahan). Pemimpin tertinggi negara dipilih dan
diangkat oleh rakyat melalui baiat
(sumpah setia).
Nah, Indonesia bukan negara sekuler
ataupun negara agama. Indonesia adalah negara Pancasila. Artinya, Indonesia
adalah negara yang kehidupan warganya dalam segala aspek didasarkan pada
Pancasila. Pancasila menjadi sumber dari segala sumber hukum. Pancasila
merupakan dasar falsafah negara, ideologi, pandangan hidup, jiwa, dan
kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila adalah intisari kebudayaan Indonesia.
Sedangkan ciri khas kebudayaan Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Artinya,
meski beraneka ragam namun tetap merupakan kesatuan.
Bagaimana sikap negara Pancasila terhadap
agama? Negara mengakui secara resmi dan menjunjung tinggi sejumlah agama
tertentu. Negara mendorong pengembangan agama beserta para penganutnya
masing-masing. Setiap warga negara bebas memeluk salah satu dari agama tersebut.
Mereka juga bebas menjalankan ibadah menurut agama mereka masing-masing.
Demikian pula, negara juga memperlakukan Kepercayaan terhadap Tuhan yang
Mahaesa dengan cara yang kurang lebih sama. Dalam hal ini, termasuk pula terhadap
berbagai aliran beserta para penghayatnya.
Negara Indonesia berlandaskan Pancasila.
Sila pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan yang Mahaesa. “Negara berdasar
atas Ketuhanan yang Mahaesa,” demikian bunyi pasal 29 ayat 1 Undang-Undang
Dasar 1945. Ini berarti negara mengakui, mempercayai, dan meletakkan Tuhan pada
kedudukan tertinggi. Negara menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan agama.
Tuhan dan agama ikut menjadi sumber hukum, spiritualitas, etika, dan moral.
Dapatlah dikatakan bahwa seluruh penduduk
Indonesia telah berketuhanan yang Mahaesa. Sebagian terbesar telah menjadi
pemeluk enam agama yang diakui. Dan bahkan, mayoritas mereka telah menganut
Agama Islam. Seandainya aku ingin berdakwah, siapakah yang layak menjadi
sasaran dakwahku? Di dunia ini, jumlah muslim terbesar adalah penduduk
Indonesia. Banyak di antara mereka adalah para alim ulama, kiai, habib, da’i,
sarjana agama, cendekiawan, dan guru agama. Untuk apa lagi aku juga harus
berdakwah?
Nah, aku tidak pernah minta dilahirkan di
Indonesia. Ketika di alam ruh atau rahim pun, aku juga tidak pernah minta jadi
muslim. Aku terlahir dan mulai menyadari kehidupan pada usia taman kanak-kanak.
Pada saat itulah, aku dihadapkan pada persoalan mau menjadi apa. Seorang penganut
Kejawen, Hindu, Kristen Protestan, atau Islam? Begitulah pemikiranku yang amat
sempit dan terbatas. Aku merasa bahwa menjadi muslim mungkin hanya karena
pengaruh lingkungan saja. Karena pengaruh orang tua, keluarga, tetangga, teman,
atau lingkungan pergaulan sosial semata.
Tetapi, alhamdulillah, berkat al-Quran
sebagai wahyu-Nya, pikiranku berubah.
Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama;
fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurutnya.
Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah. Demikian itulah agama
yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
(al-Quran Surat ar-Rum [30] ayat 30)
fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurutnya.
Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah. Demikian itulah agama
yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
(al-Quran Surat ar-Rum [30] ayat 30)
Menurut firman Allah
itu, “agama” (ad-din) yang
dimaksudkan adalah Islam. Satu-satunya agama yang diciptakan Allah sesuai
dengan fitrah-Nya (fith-ratallah).
Sesuai dengan fitrah Allah, berarti
agama yang selaras dengan segala sifat-Nya. Sesuai dengan kesempurnaan,
kebenaran, kebaikan, dan keindahan-Nya. Sesuai dengan kemahaagungan dan
kemahamuliaan-Nya. Dan karena Allah itu Mahaesa, Mahasatu (al-Wahid), maka Islam itulah satu-satunya agama-Nya (dinullah). Tak ada yang lainnya lagi!
Kemudian, Allah telah menciptakan manusia
menurutnya. “Menurutnya” di sini adalah terjemahan dari kata ‘alayha (atasnya). Dan ha (nya) yang dimaksudkan adalah fitrah
Allah yang telah disebutkan sebelumnya. Jadi, manusia itu telah diciptakan
Allah berdasarkan atas fitrah-Nya itu pula. Manusia—bahkan segala sesuatu—diciptakan
sesuai dengan sifat-sifat kemahaesaan dan kemahasempurnaan Allah. Manusia
tercipta selaras dengan kebenaran, kebaikan, dan keindahan Allah.
Ketentuan bahwa manusia diciptakan selaras
dengan fitrah Allah itu tak akan pernah berubah. Ketentuan itu bersifat mutlak
dan abadi. Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah. Ciptaan Allah adalah
terjemahan dari kata khalqillah (makhluk
Allah). Jadi, pada dasarnya, segala makhluk tercipta dengan fitrah atau tabiat
asali yang sama. Ini merupakan ketetapan Allah yang abadi. Pada kenyataannya,
dapat saja terjadi perubahan. Maka, bukanlah hukum fitrah itu sendiri yang
berubah, tetapi makhluk-Nya itulah yang berubah.
Agama Islam adalah ad-din al-qayyim (agama yang lurus). Al-qayyim (lurus) artinya benar, bebas dari kesalahan. Ini karena
Islam adalah agama Allah. Akibatnya, Islamlah satu-satunya agama yang benar
(menurut Allah dan fitrah-Nya). Konsekuensi selanjutnya adalah, manusia, sesuai
fitrah-Nya, hanya akan menganut Islam. Faktanya, banyak manusia memeluk
agama-agama atau keyakinan-keyakinan selain Islam. Mengapa? Karena kebanyakan
manusia memang tidak mengetahui (la
ya’lamun).
Tidak mengetahui berarti pula tidak
mengerti, tidak memahami, dan tidak menyadari. Celakanya, mereka yang tidak
mengetahui banyak yang akhirnya menjadi tidak mau mengetahui. Jika bukan karena
hidayah Allah, mereka pasti akan dalam keadaan begitu selama hidupnya.
Masalahnya, Allah menggunakan ungkapan aktsaran
an-nas (kebanyakan manusia). “Kebanyakan” dapat bermakna “sebagian besar”
atau “mayoritas”. Dan ini tidak hanya meliputi nonmuslim saja, melainkan
termasuk sebagian muslim juga.
Dari situ, kesadaran dan motivasiku untuk
berdakwah muncul kembali. Bukankah Rasulullah S. a. w. telah memerintahkan
kepada setiap muslim untuk “Sampaikanlah olehmu dariku walau hanya satu ayat”?
Perlu diingat bahwa mereka yang tidak atau belum mengetahui ajaran Islam hakiki
mencakup muslim dan nonmuslim. Dengan demikian, “pasar” dakwah kita teramat
luas.
Allah S. w. T. memerintahkan dalam
al-Quran Surat al-An’am ayat 70 agar tiap muslim memperingatkan siapapun.
“Peringatkanlah
dengannya agar setiap orang tidak terjerumus karena perbuatannya sendiri.”
Memperingatkan dengan apa? “Dengannya” (bihi).
“Nya” (hi) dalam ayat tersebut yang
dimaksud adalah al-Quran. Tujuannya jelas, agar tiap diri (nafsun) terhindar dari tubsala.
Makna sebenarnya dari tubsala adalah
“akan dibinasakan”. Jadi, peringatan itu bermanfaat untuk menghindarkan diri
dari kebinasaan.
Mengapa orang-orang yang tidak
mengindahkan peringatan itu akan binasa? Ya, karena itu berarti mereka tidak
mengindahkan al-Quran sebagai firman Allah. Ngerinya, kebinasaan itu abadi.
Kebinasaan di neraka (an-nar). Oleh
sebab itulah, tubsala lalu
diterjemahkan dengan “terjerumus” (ke dalam neraka). Dan mereka terjerumus ke
dalam neraka akibat perbuatan mereka sendiri (bima kasabat).
Apa perbuatan yang menyebabkan manusia
terjerumus ke dalam neraka? Mereka terjerumus ke dalam neraka karena tidak
mengindahkan al-Quran. Allah dengan al-Quran memperingatkan manusia agar
kembali kepada fitrah penciptaannya. Mereka harus menjadi hamba Allah yang
berserah diri dan taat kepada-Nya (muslim).
Kembali ke tabiat asli dan berserah diri kepada Allah berarti memeluk Islam,
satu-satunya agama Allah (dinullah).
Tugas dakwah hakikatnya adalah
menyelamatkan manusia dari kebinasaan abadi. Dengan perintah itu, kita dilarang
untuk bersikap egois. Hanya mengupayakan keselamatan diri pribadi dan keluarga
saja, contohnya. Kita wajib peduli bahkan bersikap proaktif. Berdakwah kepada
diri sendiri, keluarga, kerabat, tetangga, lingkungan sosial, saudara sebangsa,
bahkan kepada manusia pada umumnya. Tidak membedakan muslim ataupun nonmuslim.
Aku berpikir, selama ini aku memang telah
dapat berdakwah sendiri. Tetapi, alangkah lebih baiknya bila dapat berdakwah
secara berjamaah. Insya’allah, Forum Lingkar Pena Wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta dapat memenuhi hal itu. Alasannya, dakwah kepenulisan nampaknya
lebih efisien dan efektif daripada dakwah lisan.
Sejak lama aku gemar membaca, belajar, dan
berdiskusi, khususnya masalah keagamaan. Hingga terpikir olehku bahwa
sesungguhnya aku juga suka menulis. Aku yakin punya bakat menulis. Ini adalah
karunia Allah yang besar. Karunia ini wajib aku kembangkan secara maksimal. Aku
punya harapan besar jika aku dapat bergabung ke dalam FLP.
Sebelum berdakwah lewat tulisan, tentu
kita harus mempersiapkan segala sesuatunya. Kita butuh bekal yang memadai,
mengerti seluk beluk medan dakwah, siapa yang menjadi sasaran dakwah, bagaimana
metodenya dan lain sebagainya. Pertama-tama, tentu kita harus bertanya kepada
diri sendiri, “Apakah aku seorang muslim?” “Muslim” bukan hanya karena di KTP
kita tecantum “Agama: Islam”. Bukan pula sekedar identitas yang ketika ditanya
kita menjawab dengan ragu-ragu. Paling tidak, kita memahami—meski
serbaterbatas—kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama Allah. Kita beriman
kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan atau sesembahan yang wajib diibadahi.
Kita mengimani Nabi Muhammad S. a. w. sebagai penutup semua nabi dan rasul-Nya.
Selanjutnya, kita tidak mencampur
keislaman kita dengan agama atau keyakinan apa pun lainnya. Kita hanya
mengimani al-Quran sebagai satu-satunya firman Allah yang hakiki. Mengimani
bahwa setiap huruf dari kitab itu semata-mata berasal dari Allah. Bahwa
al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad S. a. w. yang abadi.
Orisinalitas atau keaslian al-Quran sejak diwahyukan pertama kali hingga
kapanpun tetap dijamin oleh Allah sendiri. Tidak ada kitab suci lain yang
seperti itu.
Kita juga harus yakin bahwa Islam adalah
agama yang sempurna. Islam mengatur dengan sebaik-baiknya kehidupan manusia
dalam berbagai aspeknya. Islam yang dibawa Nabi Muhammad S. a. w. adalah
satu-satunya agama Allah untuk semua manusia. Bukan hanya untuk suatu suku
bangsa tertentu saja. Islam akan tetap relevan bagi seluruh manusia di semua
tempat dan zaman. Syariat Islam mampu menjawab berbagai persoalan manusia
sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman.
Kita harus merasa senang dan bangga
menjadi muslim. Kita senang dan bangga juga ketika berbicara, belajar, dan
berdiskusi tentang Islam. Kita senang membaca buku-buku tentang Islam. Secara
khusus, kita harus punya minat dan perhatian pula terhadap hadits-hadits Nabi
S. a. w. Mau mempelajari berbagai hadits untuk mengetahui kesahihannya.
Selain gemar membaca buku, tentang Islam
khususnya, kita juga harus punya minat di bidang kepenulisan. Ini prasyarat
wajib, mengingat kita akan bergerak di bidang dakwah kepenulisan. Bekal utama
untuk menulis, tentunya, adalah al-Quran dan as-Sunnah. Selain itu, perlu
dilengkapi dengan literatur berupa ilmu-ilmu keislaman lainnya. Buku-buku
bermutu tentang berbagai disiplin ilmu pastilah juga bermanfaat. Kita perlu
mempelajari filsafat, kebudayaan, ilmu-ilmu eksakta, dan ilmu-ilmu sosial.
Seluk beluk medan dakwah harus kita
pelajari dengan cermat. Masyarakat Indonesia sangatlah majemuk. Mereka terdiri
atas beragam suku bangsa. Mereka memiliki bahasa daerah, adat istiadat,
falsafah hidup, dan agama atau keyakinan yang berbeda-beda. Bahkan yang muslim
pun mempunyai corak pemikiran yang berbeda-beda. Setidaknya, ada yang
tradisionalis dan yang modernis. Ada yang mempertahankan keislaman yang murni
dan ada pula yang menyesuaikannya dengan budaya setempat. Ada yang berpikir konservatif
dan ada yang liberal.
Hal yang tak boleh dilupakan adalah bahwa
Indonesia itu negara Pancasila. Pancasila menjadi ideologi, dasar falsafah,
pandangan hidup, kepribadian, jati diri, dan jiwa bangsa Indonesia. Maka,
metode dan cara berdakwah kita harus mempertimbangkan semua ini. Intinya,
bagaimana kita mampu mengintegrasikan Islam dengan Pancasila. Menyinergikan
keislaman dan keindonesiaan.
Kita harus memilih, mana yang harus
diprioritaskan muslim atau nonmuslim? Jawabannya tentu muslim. Begitu pula, dalam
menentukan sasaran dakwah kita. Pemahaman, keyakinan, kebanggaan, penghayatan,
dan pengamalan kaum muslimin terhadap Islam wajib kita bangun terlebih dahulu.
Jangan sampai terus saja terjadi, umat Islam Indonesia hanya menang dalam
jumlah. Namun, kalah dalam kualitas.
Mendakwahi umat Islam Indonesia harus
memperhitungkan sejumlah faktor. Faktor-faktor itu meliputi suku bangsa, adat
istiadat, budaya, kearifan lokal dan sebagainya. Lebih-lebih berdakwah kepada
mereka yang nonmuslim, tentu harus memahami dan menghormati agama atau
keyakinan mereka. Di sinilah pentingnya peran ilmu perbandingan agama.
Pendekatan melalui apresiasi dan diskusi yang empatik adalah tepat.
Apa yang dapat dilakukan Forum Lingkar
Pena, khususnya Wilayah Yogyakarta? Banyak hal yang dapat dikerjakan. FLP
merupakan forum informasi, komunikasi, silaturahmi, diskusi, konsultasi,
koordinasi, dan aksi para penggiat dakwah kepenulisan. FLP dapat pula menjadi
wadah pendidikan dan pelatihan para penggiat itu. Kualitas sumber daya manusia
para dai dapat pula diolah dan ditingkatkan di forum ini.
Aku sangat berharap bahwa FLP dapat
menjadi forum penggodokan ide dan metode dakwah kepenulisan. Di sinilah tempat
materi dakwah didiskusikan, diolah, dan ditulis. FLP harus mampu memproduksi
karya-karya bermutu. Karya-karya tulis itu hendaknya selaras dengan kebutuhan sasaran
dakwah masa kini. Semuanya dikemas dengan bahasa yang sederhana, mudah
dipahami, menarik, kreatif, dan segar.
FLP harus peka dan mampu memilih dan
memilah isu-isu kekinian. Beberapa topik aktual misalnya adalah teknologi
digital, gender, LGBT, pengaruh budaya barat, dan terorisme. FLP diharapkan
mampu membuat Islam, al-Quran, dan as-Sunnah membumi. Kita harus mampu
memfungsikan Islam secara faktual sebagai pemandu. Pemandu dalam berbagai
persoalan kehidupan yang sungguh-sungguh riil.
FLP harus merespon secara positif konsep
Islam Nusantara. Sebuah konsep yang digagas dan didukung oleh Nahdhatul Ulama
dan Muhammadiyah. Tetapi FLP pun harus mampu mengritisi dan mengawal
aplikasinya. FLP harus mampu menjembatani perbedaan yang telah berumur panjang
di antara kedua organisasi massa Islam itu. Persatuan dan kesatuan umat Islam
Indonesia harus mendapatkan prioritas.
Sesungguhnya apa yang pertama-tama harus
didakwahkan? Bahwa Islam adalah dinullah
(agama Allah) yang diwahyukan oleh al-Khaliq (sang Maha Pencipta) sendiri. Nama
agama ini adalah Islam, bukan Muhammadanisme seperti diistilahkan oleh
orang-orang Barat. Kita masih dapat menerima bila ia disebut Islamisme. Nama
“Islam” berasal dari Allah, bukan dari manusia. Karena itu, ia berbeda dengan
Hinduisme, Buddhisme, Yudaisme, atau Kristianisme.
Islam bukanlah agama yang hanya dibawa
oleh Nabi Besar Muhammad S. a. w. saja. Islam adalah satu-satunya agama yang
diwahyukan oleh Allah kepada seluruh nabi. Menurut sebuah hadits, seluruh nabi
berjumlah 124.000 orang. Di antara mereka itu, 313 orang adalah rasul. Sejak
Adam sebagai manusia dan nabi yang pertama hingga Nabi Besar Muhammad S. a. w.
hanya menyampaikan Islam. Islam mengimani semua nabi dan tidak membeda-bedakan
mereka. Mana ada agama lain yang seperti ini? Sifat khas Islam adalah
apresiatif terhadap para nabi dan kitab suci yang mereka bawa. Terutama kepada
Nabi Nuh a. s., Nabi Ibrahim a. s., Nabi Musa a. s., dan Nabi Isa a. s.
Allah
(bahasa Arab) adalah sebuah nama pribadi, bukan gelar atau kedudukan. Berbeda
dengan ilah yang artinya “dewa”, “sembahan”,
atau “tuhan”. Ilah (tuhan) hanyalah
sebutan umum yang menunjukkan kedudukan atau jabatan, bukan nama. Inti pokok
ajaran Islam adalah La ilaha illallah.
Itu bermakna “tak ada (la) Tuhan (ilaha) kecuali (illa) Allah (‘llah)”.
Dari kalimat syahadat itu, jelas berbeda antara ilah dengan Allah.
Terjemahan bahasa Inggrisnya yang tepat mungkin No God but Allah.
Allah
berasal dari gabungan kata al dan ilah. Al dalam bahasa Arab adalah kata sandang yang merujuk pada sesuatu
yang sudah tertentu. Padanannya dalam Bahasa Inggris adalah the (definite
article). Jadi Allah itu bermakna “sang Tuhan” atau “Satu-satunya Tuhan”. “Satu-satunya”
dalam pengertian “satu-satunya Tuhan yang hakiki, yang sejati”. Dialah
satu-satunya Tuhan yang wajib disembah dan diibadahi. Yang lainnya adalah
Tuhan, sembahan, dan dewa palsu.
Perlu diketahui bahwa kata Allah memiliki padanan dengan El, Eloah,
Elohim, Elah, atau Alah. El, Eloah,
dan Elohim adalah kata-kata dalam
Bahasa Ibrani. El mungkin berasal dari Bahasa Kanaan kuno. Ketiganya berarti
“sembahan”, “dewa”, atau “tuhan”. Eloah
sangat mirip dengan Allah. Memang
Bahasa Ibrani dan Bahasa Arab adalah bahasa serumpun. Adapun Elah atau Alah adalah dari Bahasa Aram yang juga berarti “tuhan”. Aram,
Arami, Aramia, atau Aramik adalah bahasa sehari-hari yang dipakai Nabi Isa a.
s. dalam berdakwah.
Kesalahan besar yang menimbulkan perbedaan
sekaligus kerancuan adalah masalah terjemahan. Dalam Alkitab (terjemahan kitab
suci agama Kristiani), banyak ditemukan kata-kata “Allah”, “allah”, “ilah”,
“TUHAN”, “Tuhan”, dan “tuhan”. Kata “Allah” (Indonesia) adalah terjemahan dari
kata El, Eloah, dan Elohim
(Ibrani) atau Theos (Yunani). Karena
itu “Allah” (“allah”) hanya berarti “sembahan”, “tuhan”, atau “dewa”. Allah (Arab) menjadi sama artinya dengan
ilah (Arab). “Allah” hanyalah jabatan
atau kedudukan, bukan nama pribadi.
Sebenarnya Eloah (Ibrani) sepadan dengan Elah
atau Alah (Aram), sepadan pula dengan
ilah (Arab). Jadi, mestinya Eloah harus diterjemahkan dengan “ilah”
atau “tuhan” (Indonesia). Dalam Islam (Arab), Allah bukan ilah, dan
juga sebaliknya. Sedangkan Allah
(Arab) padanannya yang tepat dalam bahasa Aram adalah Elaha atau Alaha. Ha di belakang kata Elah atau Alah itu sama
fungsinya dengan kata Al (Arab). Bahasa-bahasa Arab, Ibrani, dan Aram adalah
serumpun.
Tidak seperti agama lain--Hindu, Yahudi,
dan Kristiani misalnya—Islam diturunkan untuk seluruh manusia, bukan untuk
bangsa tertentu saja. Bukan khusus untuk Bangsa Arya (Hindu) atau Bangsa Israel
saja (Yahudi dan Kristiani). Islam telah ditetapkan oleh Allah sebagai rahmatan lil ‘alamin atau “rahmat bagi
semesta alam’ (al-Quran Surat al-Ambiya’ [21] ayat 107). Itulah sebabnya, di
dalam al-Quran tidak ada pujian bagi Bangsa Arab sebagai bangsa pilihan Tuhan.
Tak ada seruan “Wahai Bangsa Arab!”, yang ada Ya ayyuhannas! (Wahai manusia!).
“Rahmat” berarti “kasih sayang”. Islam
sebagai rahmat bagi semesta alam, berarti Islam adalah ungkapan dan curahan
kasih sayang Allah atas seluruh alam. Allah adalah ar-Rahman dan ar-Rahim,
sang Maha Pemurah, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Islam diturunkan
terutama untuk manusia, tetapi ia adalah rahmat Allah untuk seluruh alam. Islam
membawa keimanan, prinsip, konsep, hukum, aturan, dan panduan agar semesta alam
merasakan kasih sayang-Nya.
Selanjutnya, “Islam” itu sendiri dapat
bermakna “damai”, “selamat”, atau “sejahtera”. Jelas, bahwa Islam diturunkan
untuk menciptakan dan memberikan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan.
Inilah visi dan misi Islam. Allah itu as-Salam
(Mahadamai) sehingga Dia hanya menurunkan Islam
(damai) sebagai satu-satunya agama-Nya. Ucapan antarmuslim adalah assalamu ‘alaikum (semoga kedamaian
atasmu). Penghormatan kepada seluruh nabi adalah juga ‘alaihis salam (semoga kedamaian atasnya). Akhirnya, Islam menyeru
manusia menuju ke darussalam (tempat
yang penuh kedamaian) alias surga.
Dan
sungguh ia benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin, ke dalam hatimu agar engkau termasuk di antara
orang-orang yang memberi peringatan, dengan Bahasa Arab yang jelas. Dan sungguh
ia benar-benar di dalam kitab-kitab orang-orang yang terdahulu.
(al-Quran Surat asy-Syu’ara [26] ayat 192-196)
dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin, ke dalam hatimu agar engkau termasuk di antara
orang-orang yang memberi peringatan, dengan Bahasa Arab yang jelas. Dan sungguh
ia benar-benar di dalam kitab-kitab orang-orang yang terdahulu.
(al-Quran Surat asy-Syu’ara [26] ayat 192-196)
Yang dimaksud dengan hu (ia) dalam ayat ini adalah al-Quran. Ar-Ruh al-Amin (Roh yang Terpercaya)
adalah Malaikat Jibril a. s. Dalam kata litakunu
(agar engkau menjadi), “engkau” adalah Nabi Muhammad S. a. w. Al-Quran
diturunkan oleh Allah, melalui Jibril, kepada Nabi S. a. w. agar beliau menjadi
pemberi peringatan (al-mundzirin).
Dengan al-Quran itulah, beliau memperingatkan manusia. Al-Quran memang
diturunkan dalam Bahasa Arab yang jelas. Dan al-Quran sudah disebutkan di dalam
kitab-kitab suci sebelumnya, seperti Taurat, Zabur, dan Injil.
Betapa penting dan pokoknya al-Quran itu.
Dengannyalah kita akan mampu berdakwah dengan sebaik-baiknya. Al-Quran menjadi
sumber inspirasi, ilmu pengetahuan, motivasi, pemandu, dan kekuatan bagi para
dai. Di samping al-Quran dan as-Sunnah, alangkah baiknya bila kita melengkapi
diri dengan berbagai disiplin ilmu lainnya. Semakin luas wawasan kita semakin
berkualitas dakwah kita. Semuanya dapat menjadi bahan tulisan dakwah yang tak
ada habis-habisnya.
Sebagai penutup, mari kita bangun gairah
dalam berdakwah. Tak peduli kepada siapa pun, terutama kepada umat Islam
sendiri. Ingat, tugas kita hanyalah menyampaikan. Tentang hasilnya kita
serahkan sepenuhnya kepada Allah. Bila dakwah tertulis sudah kita lakukan.
Selesai sudah. Tentu harus ikhlas agar Allah meridai. Tak perlu takut atau
ragu. Tugas kita hanya menyampaikan, sesuai firman Allah berikut ini.
Maka
jika mereka berpaling, maka sungguh
kewajiban atasmu hanyalah menyampaikan dengan terang.
(al-Quran Surat an-Nahl [16] ayat 82)
kewajiban atasmu hanyalah menyampaikan dengan terang.
(al-Quran Surat an-Nahl [16] ayat 82)
Bahkan tugas Rasulullah
S. a. w. pun hanyalah menyampaikan dengan jelas. Setelah menerima dakwah
beliau, seseorang akan mengikutinya atau tidak, itu bergantung kepada dua hal.
Pertama, Allah berkenan mengaruniakan hidayah-Nya atau tidak. Kedua, orang yang
bersangkutan bersedia membuka pintu hatinya atau tidak. Jadi, kita tak perlu
risau atau kecewa andai dakwah kita ditolak.
Tugas utama kita adalah mengusahakan
persatuan dan kesatuan umat Islam Indonesia. Mengajak dan mendorong mereka
untuk mencintai beberapa hal berikut di atas hal-hal lainnya. Mereka harus
mencintai Allah, Rasulullah S. a. w. (termasuk ahli keluarga dan para sahabat
beliau), al-Islam, al-Quran, as-Sunnah, para ulama dan sesama muslim. Kecintaan
yang melebihi kecintaan mereka kepada kepentingan-kepentingan lainnya.
Bagaimana mungkin bangsa Indonesia dapat
bersatu jika umat Islam yang menjadi mayoritas penduduknya terpecah belah.
Perpecahan umat dapat terjadi karena mereka lebih mencintai mazhab, ulama atau
ustadz, kelompok, dan partai mereka masing-masing. Belum
kepentingan-kepentingan lainnya seperti politik, ekonomi, dan sebagainya.
Perbedaan tafsir atas ayat al-Quran dan as-Sunnah sudah cukup untuk memicu
pertikaian.
Alangkah besar harapanku bila aku dapat
bergabung ke dalam FLP, khususnya wilayah Yogyakarta. Selain dapat menyalurkan
bakat menulisku, ada kesempatan berjihad di bidang dakwah Islamiah. Semoga
Indonesia akan dapat menjadi negara Pancasila yang bersyariah. Dan Islam
benar-benar menjelma menjadi rahmatan lil
‘alamin di negara ini, bahkan di tingkat global.
Sleman,
Kamis, 21 Jumadil ‘Awwal 1439 H./8 Februari 2018 M.
Sonny
Wimmar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar